Ranah Nata atau Natal mulai dikuasai oleh penjajah Belanda.
1823, Ranah Nata Masuk dalam keresidenan Tapanuli,
1830 di Ranah Nata dan Tapanuli ditempatkan posthouder, di Ranah Nata tempatkan Posthouder bernama A. H. Intveld.
1831 di Natal di Mulai Pemerintahan Semi Militer dengan jabatan Civil Militer kommandant berpangkat Letnan satu, asisten letnan Dresse.
1833, Ranah Nata / Natal, Tapanuli dan Air Bangis disatukan menjadi satu Afdeeling yang bernama Noordelijke Afdeeling dengan Ibu Kota nya Ranah Nata (Natal).
1836, Arsitektur pemerintahan Noordelijke Afdeeling mengalami perubahan. Statusnya dinaikkan menjadi Asisten Resident dan wilayah ditambah Rao.
- menurut tijdschrift, voor Neerland's Indie Jrg 2, 1839. Di Ranah Nata terdapat 6 suku, yaitu : Minang Kabau, Suku Barat, Suku Padang, Suku Bandar 10, suku atjeh, suku Rao.
1840, status Ranah Nata diturunkan dari Asisten Resident menjadi Counteler.
30-11-1842, Eduard Doowes Dekker (Multatuli) menjadi Controleur Natal, selama menjabat Multatuli menjadi tempat curhat dan berkeluh kesah penduduk bahkan melakukan advokasi,
Karna dianggap tidak berpihak pada pemerintah Belanda, Multatuli di panggil ke Padang dan di bebas tugaskan dan di ganti dengan H. Dipenhorst.
1843 Eduard Doowes Dekker dipecat dari Controleur Natal.
Menurut De Sumatra Post, 18-03-1931 : Surat Dari Eduard Doowes Dekker telah di temukan dari Arsip Negara dan disimpan. Multatuli menulis surat dari 30 Nov 1842 - 25 Agst 1843.
1845, Ranah Nata masuk residen Air Bangis, sejak pemecatan Multatuli, pemerintahan Natal dikendalikan oleh beberapa controleur, tapi hanya sebatas pejabat sementara.
1846, afdeeling Natal dimasukkan dalam ke Residentie Tapanuli.
Saat AP Godon menjabat di Afd. Mandailing en Angkola, jalan penghubung antara Tanobato dengan Pelabuhan Natal dibuka.
1852, Produksi kopi Mandailing dan Angkola mengalir ke Pelabuhan Natal, dan diteruskan ke Padang,
1853, JAW Van Opuijsen menjadi Controleur Natal,
1857, Ranah Nata mulai sepi kembali seperti tahun 1845, akibat dari dibukanya jalan darat penghubung Padang - Sibolga via Padang Sidempuan.
1862, si Sati ( Willem Iskandar) bersama Jellinghaus ( Resident Mqndailing en Angkola) datang dan bermalam di rumah gadang Ranah Nata.
1864, WR Devidson membangun Tangsi Hitam di Natal yang kini menjadi Rutan Natal.
Minggu, 27 Agustus 2017
Sejarah Kota Natal : Prakiraan dan Lama Kuasa II
Kamis, 24 Agustus 2017
Sejarah Kota Natal : Prakiraan Masa dan Tahun kuasa I
Ranah Nata ( kota Natal) merupakan kota kecil yg mncapai puncak kejayaan dimasa penjajahan kolonial penjajah. Menurut M. Onggang Parlindungan dalam buku ( Tuanku Rao ) masyarakat adat Ranah Nata sudah berusia satu alaf (1000 th) lamanya dan menamakan tanah ulayat nenek moyangnya dengan sebutan Ranah Nata. Dan tidak pernah ada orang yg menambahkan huruf el ( L) atau er (R) dibelakang kata Nata. Kecuali para pendatang dan masyarakat mandailing dahulunya.
Berikut beberapa catatan tahun sejarah untuk Ranah Nata.
1325 - 1350, DR. Hamka, 1974. Dalam buku nya "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao", menjelaskan bahwa Ibnu Bathuthah datang ke Natal dan memberi nama Ranah Nata untuk Kota Natal.
Hal ini dikarenakan saat beliau tiba di Natal beliau mendengar suara jeritan dari seseorang yang berasal dari sebuah bukit kecil yang saat ini disebut dengan nama bukit bendera. Menurut E.St. Harahap, 1960, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" sebenarnya bukit itu bernama bukit Mandera, yaitu bukit tempat mendera.
1412, diyakini sebagai tahun kedatangan Syekh Maghribi Maulana Malik Ibrahim ke Ranah Nata,
1416, H. Sham Po Boo datang ke Ranah. Beliau adalah seorang saudagar dari China, yang kemudian para pendatang China mulai mendirikan penggergajian kayu di singkuang skitar tahun 1513. Dan kedatangan saudagar dari negeri bambu ini juga diyakini sebagai awal pemberian nama singkuang yg berasal dari kata Sing Kwang yang berarti tanah baru. Sedangkan untuk tempat peristirahatan mereka adalah suatu tempat yg bernama Kun - Kun yg juga berasal dari bahasa China dan mempunyai arti Berleha -leha.
1492-1496, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" disebutkan bahwa kolonial telah datang ke Ranah Nata untuk berdagang.
1500-1560, Shaff ra Alisyahbana, dalam catatan Pra Malako memperkirakan Datuk Imam Basya dari Air Bangis dan pangeran Indra Sutan dari Indopuro datang ke Ranah Nata dan mendirikan kerajaan Ranah Nata yang berpusat di Padang Malako, dan kemudian pindah ke Kampung Bukik. Sementara itu Pangeran Indra Sutan mendirikan kerajaan Lingga Bayu di simpang bajambah yang notabenenya adalah pemekaran dari kerajaan Ranah Nata. Sebagian sumber menyatakan pemekaran ini untuk mempermudah penguasaan dan pengawasan wilayah Ranah Nata atau pembagian tugas.
1525 , untuk yang kedua kalinya bangsa portugis datang ke Ranah Nata dan memberi nama Natal untuk Ranah Nata.
Hal ini dikarenakan mereka melihat ada kemiripan pelabuhan dan pemandangan Ranah Nata dengan Natal yang ada di Prov. Durban, Afrika Selatan dan juga Amerika Selatan. Namun ada pula yang berpendapat bahwa pemberian nama Natal dikarenakan mereka tiba di Ranah Nata pada tanggal 25 Desember yang bertepatan dengan Hari Natal.
1672, menurut Jhon Crawfurd, 1856, dalam buku " A Discriptive of Ned Indies" bangsa Inggeris datang ke Ranah Nata dan juga memberikan nama Natal untuk Ranah Nata.
1610, Ranah Nata dikuasai oleh Kerajaan dari Atjeh.
1619 Sejak kedatangan pelaut-pelaut Eropa di Nusantara (menggantikan pelaut/pedagang dari India, Persia dan Arab), nama Natal belumlah popular. Pelaut Portugis dan Spanyol yang pertamakali datang. Kemudian disusul Perancis, Inggris dan Belanda. Pelaut-pelaut Portugis telah memetakan wilayah Nusantara. (Sumber : blog Akhir Matua Hrp.)
1697, Syekh Burhanuddin III datang ke Ranah Nata.
1700, Sutan Tiansyah datang dari Bengkulu dan mendurikan kerajaan Kinondom di Simpang Sao, Bintuas.
1710, Raja Merangkat dan Raja Lumut mendirikan kerajaan Singkuang di Sinorpi.
1711, Sutan Rangkayo Maharajo Di Rajo dari Indopuro mendirikan kerajaan Batahan di Sopobolo
1715, Si Hitam Lidah Raja di Angkola dari Muara Sipongi mendirikan kerajaan Lubu di Batu Gajah,
1715/1720 Mangaraja Uhum dari Mandailing pindah ke Ranah Nata. Dari sinilah awal mula muncul nya penyebutan Natar untuk Ranah Nata. Natar berasal dari kata Natarida yang berarti " yang tampak /Indah".
1760, Sutan Baginda Martia Lelo mengadakan perjanjian dengan VOC di Ranah Nata yang dihadiri oleh Abraham Moashell (Resident Nias).
1762, untuk kesekian kalinya bangsa Inggeris masuk ke Ranah Nata dan memperkuat penamaan Natal dan juga membuat peta Ranah Nata.
Bersambung
Sejarah Kota Natal : Prakiraan Masa dan Tahun kuasa I
Ranah Nata ( kota Natal) merupakan kota kecil yg mncapai puncak kejayaan dimasa penjajahan kolonial penjajah. Menurut M. Onggang Parlindungan dalam buku ( Tuanku Rao ) masyarakat adat Ranah Nata sudah berusia satu alaf (1000 th) lamanya dan menamakan tanah ulayat nenek moyangnya dengan sebutan Ranah Nata. Dan tidak pernah ada orang yg menambahkan huruf el ( L) atau er (R) dibelakang kata Nata. Kecuali para pendatang dan masyarakat mandailing dahulunya.
Berikut beberapa catatan tahun sejarah untuk Ranah Nata.
1325 - 1350, DR. Hamka, 1974. Dalam buku nya "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao", menjelaskan bahwa Ibnu Bathuthah datang ke Natal dan memberi nama Ranah Nata untuk Kota Natal.
Hal ini dikarenakan saat beliau tiba di Natal beliau mendengar suara jeritan dari seseorang yang berasal dari sebuah bukit kecil yang saat ini disebut dengan nama bukit bendera. Menurut E.St. Harahap, 1960, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" sebenarnya bukit itu bernama bukit Mandera, yaitu bukit tempat mendera.
1412, diyakini sebagai tahun kedatangan Syekh Maghribi Maulana Malik Ibrahim ke Ranah Nata,
1416, H. Sham Po Boo datang ke Ranah. Beliau adalah seorang saudagar dari China, yang kemudian para pendatang China mulai mendirikan penggergajian kayu di singkuang skitar tahun 1513. Dan kedatangan saudagar dari negeri bambu ini juga diyakini sebagai awal pemberian nama singkuang yg berasal dari kata Sing Kwang yang berarti tanah baru. Sedangkan untuk tempat peristirahatan mereka adalah suatu tempat yg bernama Kun - Kun yg juga berasal dari bahasa China dan mempunyai arti Berleha -leha.
1492-1496, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" disebutkan bahwa kolonial telah datang ke Ranah Nata untuk berdagang.
1500-1560, Shaff ra Alisyahbana, dalam catatan Pra Malako memperkirakan Datuk Imam Basya dari Air Bangis dan pangeran Indra Sutan dari Indopuro datang ke Ranah Nata dan mendirikan kerajaan Ranah Nata yang berpusat di Padang Malako, dan kemudian pindah ke Kampung Bukik. Sementara itu Pangeran Indra Sutan mendirikan kerajaan Lingga Bayu di simpang bajambah yang notabenenya adalah pemekaran dari kerajaan Ranah Nata. Sebagian sumber menyatakan pemekaran ini untuk mempermudah penguasaan dan pengawasan wilayah Ranah Nata atau pembagian tugas.
1525 , untuk yang kedua kalinya bangsa portugis datang ke Ranah Nata dan memberi nama Natal untuk Ranah Nata.
Hal ini dikarenakan mereka melihat ada kemiripan pelabuhan dan pemandangan Ranah Nata dengan Natal yang ada di Prov. Durban, Afrika Selatan dan juga Amerika Selatan. Namun ada pula yang berpendapat bahwa pemberian nama Natal dikarenakan mereka tiba di Ranah Nata pada tanggal 25 Desember yang bertepatan dengan Hari Natal.
1672, menurut Jhon Crawfurd, 1856, dalam buku " A Discriptive of Ned Indies" bangsa Inggeris datang ke Ranah Nata dan juga memberikan nama Natal untuk Ranah Nata.
1610, Ranah Nata dikuasai oleh Kerajaan dari Atjeh.
1619 Sejak kedatangan pelaut-pelaut Eropa di Nusantara (menggantikan pelaut/pedagang dari India, Persia dan Arab), nama Natal belumlah popular. Pelaut Portugis dan Spanyol yang pertamakali datang. Kemudian disusul Perancis, Inggris dan Belanda. Pelaut-pelaut Portugis telah memetakan wilayah Nusantara. (Sumber : blog Akhir Matua Hrp.)
1697, Syekh Burhanuddin III datang ke Ranah Nata.
1700, Sutan Tiansyah datang dari Bengkulu dan mendurikan kerajaan Kinondom di Simpang Sao, Bintuas.
1710, Raja Merangkat dan Raja Lumut mendirikan kerajaan Singkuang di Sinorpi.
1711, Sutan Rangkayo Maharajo Di Rajo dari Indopuro mendirikan kerajaan Batahan di Sopobolo
1715, Si Hitam Lidah Raja di Angkola dari Muara Sipongi mendirikan kerajaan Lubu di Batu Gajah,
1715/1720 Mangaraja Uhum dari Mandailing pindah ke Ranah Nata. Dari sinilah awal mula muncul nya penyebutan Natar untuk Ranah Nata. Natar berasal dari kata Natarida yang berarti " yang tampak /Indah".
1760, Sutan Baginda Martia Lelo mengadakan perjanjian dengan VOC di Ranah Nata yang dihadiri oleh Abraham Moashell (Resident Nias).
1762, untuk kesekian kalinya bangsa Inggeris masuk ke Ranah Nata dan memperkuat penamaan Natal dan juga membuat peta Ranah Nata.
Bersambung
Sabtu, 01 April 2017
BIDUAK PINCOLANG, Perahu Layar Jaman Dahulu di Ranah Nata
Biduoak pincolang merupakan perahu/sampan yang jaman dahulu digunakan oleh para nelayan sebagai alat transportasi laut sekaligus perahu para nelayan untuk menangkap hasil laut.
Perahu ini diyakini telah digunakan sejak beberapa abad yang lalu. Dan keberadaannya sekarang sudah hilang, tergantikan oleh alat tangkap ikan yang lebih modern. Saat ini para nelayan sudah mnggunakan kapal mesin. Sehingga tidak bergantung pada angin lagi. Namun berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup biota laut. Biduak pincolang atau perahu ini hampir sama dengan perahu layar yang sering digunakan para nelayan. Namun uniknya perahu ini juga dilengkapi dengan kabin(kamar) sebagai tempat berteduh, istirahat, dan juga ruangan yang dapat digunakan oleh para penumpangnya.
Jumat, 10 Februari 2017
Sejarah Kota Natal jilid VII
Sejak AP Godon menjadi Asisten Residen di Afdeeling Mandailing en Angkola (1847) telah banyak yang berubah. Produksi kopi terus meningkat di Mandailing dan Angkola, akses jalan menuju Natal semakin lancar. Perubahan yang lain adalah anak-anak Mandailing en Angkola sudah mulai bersekolah (introduksi aksara latin dalam pendidikan). Pendapatan pemerintah dari kopi telah mampu membiayai untuk pendidikan. Pendapatan yang sebelumnya terbatas untuk anggaran infrastruktur (utamanya jalan/jembatan) kini telah diperluas dan dialokasikan untuk pendidikan.
Sukses pertama dari pendidikan di Mandailing en Angkola adalah dikirimnya dua siswa (bernama Si Asta dan Si Angan) tahun 1854 untuk studi kedokteran di Batavia. Kedua siswa ini diharapkan akan mampu menangani penyakit dan wabah yang kerap terajdi sebelumnya. Sukses kedua adalah dikirimnya Si Sati pada tahun 1857 untuk studi keguruan ke Belanda. Pada tahun 1856 dua siswa kedokteran telah berhasil dalam studinya. Dr. Asta ditempatkan di Mandailing dan Dr. Angan ditempatkan di Angkola. Pada tahun 1856 dua siswa dikirim lagi ke Batavia.
Pada tahun 1961 Si Sati yang telah berganti nama menjadi Willem Iskander kembali ke tanah air (Batavia). Willem Iskander kemudian pulang kampong di Mandailing untuk mendirikan sekolah guru (kweekschool). Lokasi yang dipilih Willem Iskander tempat sekolah guru yang akan diasuhnya sendiri adalah din Tanobato. Suatu kampong yang jauh dari Panjaboengan di daerah yang lebih tinggi dan berhawa sejuk di sisi jalan menuju pelabuhan Natal.
Lokasi sekolah guru yang dipilih di Tanobato tidak menguntungkan untuk siswa-siswa yang berasal dari Angkola. Pilihan lokasi diduga karena letak Tabobato yang berhawa sejuk lebih sesuai untuk Willem Iskander sendiri yang sudah mengalami iklim Eropa. Alasan utama mungkin agar Willem Iskander mudah dan cepat akses ke pelabuhan (agar mudah ke Padang dan Batavia) dan juga agar pejabat pendidikan baik di Padang dan Batavia mudah mengakses sekolah guru itu.
Pilihan Tanobato sebagai sekolah guru secara tidak langsung menguntungkan Natal (yang sudah beberapa tahun mengalami keterpencilan). Natal dan pelabuhan Natal akan dengan sendirinya menjadi ramai kembali. Para pejabat akan sering meninjau sekolah tersebut. Demikian juga para wisatawan akan tertarik melihat keberadaan sekolah guru yang berada di ketinggian itu yang mana gurunya, Willem Iskander merupakan satu-satunya pribumi yang berpendidikan di Hindia Belanda dan memahami serta sudah terbiasa dengan budaya Eropa.
Afdeeling Natal yang selama ini hanya terdapat dua atau tiga pejabat (termasuk controleur), pada tahun 1861 di Natal sudah terdapat enam pejabat. Di Tanobato sejak tahun 1852 sudah ditempatkan seorang koffie pakhuis,meester. Lalu sejak 1856 seorang pengawas ditempatkan di Moearasama. Kemudian pada tahun 1858 pengawas ditambahkan di Tapoes. Pada tahun 1860 pakhuis,meester di Tanobato dan pengawas di Tapoes dihilangkan. Ini mengindikasikan jalur Natal keramaiannya (arus barang dan orang) menurun. Akan tetapi pada tahun 1861 di Tanobato diaktifkan lagi pakhuis,meester.
Satu-satunya pejabat yang ada di Tanobato saat Willem Iskander membuka sekolah guru adalah pakhuis,meester. Bisa dibayangkan bahwa Tanobato, tempat adanya sekolah guru sangatlah sepi jika dibandingkan dengan Panjaboengan yang sangat ramai tempat dimana asisten residen berkedudukan dan sejumlah pejabat lainnya. Pada tahun 1863 status pakhuis,meester di Tanobato diringkatkan menjadi pengawas. Jabatan pakhuis,meester yang sebelumnya dipegang oleh Belanda kini dialihkan dan dipegang oleh pribumi.
Penempatan pengawas (opziener) di Tanobato besar kemungkinan karena sekolah guru ini telah memiliki banyak siswa. Perhatian pemerintah di Tanobato tidak hanya pada perdagangan kopi (fungsi koffiej pakhuis,meester) tetapi juga aspek-aspek yang lebih luas dalam bidang kemasyarakatan yangdalam hal ini intens dalam bidang pendidikan (fungsi pengawas).
Sekolah guru Tanobato (Kweekschool Tanobato) semakin berkembang dan semakin diakui oleh pemerintah hingga pada akhirnya pada tahun 1865 sekolah yang didirikan Willem diakuisi pemerintah dan dijadikan sebagai sekolah guru negeri. Tanobato semakin berkembang, Moerasama juga semakin berkembang dan Natal juga ikut semakin pesat lagi berkembang.
Sumber :Akhir Matua Harahap
Kamis, 02 Februari 2017
Sejarah Kota Natal jilid VI (Ranah Nata)
Foto Pantai Natal Dahulu
Akibatnya, Natal tidak sepenuhnya menjadi pelabuhan dari afd. Mandailing en Angkola lagi, karena dalam perkembangannya tidak semua arus produksi dan orang melalui pelabuhan Natal. Penduduk dan hasil-hasil produksi dari Angkola sudah sejak lama mengalir melalui Lumut tetapi semakin optimal dengan tersedianya gudang/pelabuhan di Djaga-Djaga.
Pada saat era WA Hennij inilah ekonomi Angkola mampu mengimbangi ekonomi Mandailing. Volome perdagangan kopi Angkola telah meningkat pesat dan harganya juga telah meningkat juga. Faktor penting peningkatan elonooomi Angkola karena akses jalan yang telah membaik dari Padang Sidempuan ke Loemoet. Juga karena factor perluasan kebun kopi ke Sipirok telah mulai menghasilkan.
Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-06-1860: ‘Asisten Residen Mandheling en Ankola, B. Zellner dipindahkan ke Lima Poeloeh Kotta. Untuk Asisten Residen Mandheling en Ankola diangkat Controleur kelas-1, W.A. Henny, yang sebelumnya menjabat Controleur di Ankola’
Atas prestasi WA Hennij dalam ekstensifikasi dan intensifikasi kopi di Angkola, posisinya dinaikkan dari jabatan controleur (di onderafd. Angkola) menjadi asisten residen (di afdeeling Mandailing en Ankola). Dalam perkembangannya, WA Hennij ditarik ke Padang, Ibukota Province Sumatra’s Westkust menjadi sekretaris Gubernur (kini Sekda).
Ketika akses jalan Padang Sidempuan-Lomoet telah ditingkatkan untuk pengakutan kopi, pemerintah pusat/provinsi memandang perlu untuk menghubungkan Padang (ibukota provinsi Sumatra’s Westkust) dengan Sibolga (ibukota Residentie Tapanoeli) melalui moda transfortasi darat. Lalu dilakukan peningkatan mutu jalan/jembatan di tiga etafe: Fort de Kock-Panjaboengan, Panjaboengan-Padang Sidempuan dan Padang Sidempuan-Sibolga. Pada etafe Padang Sidempuan-Sibolga, jalan darat diperluas antara Loemoet-Sibolga. Sebab pelabuhan Sibolga sudah ditingkatkan dan arus perdagangan kopi akan langsung menuju Sibolga. Konsekuensinya, jalan akses Panjaboengan/Kotanopan menuju Natal semakin sepi. Hal ini karena faktanya arus kopi dari Mandailing telah mengalir ke tiga arah: selain ke Natal, juga telah mengarah ke Fort de Kock dan ke Padang Sidempuan.
Sejak WA Hennij menjadi sekda provinsi, perhatian pemerintah semakin intensif ke Residentie Tapanoeli khususnya di afdeeling Mandailing en Angkola. Semakin membaiknya akses darat dari Padang-Sibolga via Padang Sidempuan, jumlah para wisatawan juga semakin meningkat. Hal lain adalah di satu sisi produksi kopi di onderfadeeling Klein Mandailing dan Oeloe en Pakantan sudah mengalir melalui darat ke Fort de Kock dan di sisi lain produksi kopi dari Angkola (Djae, Djoeloe dan Dolok) menuju Sibolga.
Posisi Padang Sidempuan menjadi strategis. Padang Sidempuan menjadi tumbuh pesat karena tidak hanya pusat transit perdagangan kopi (gudang besar) juga penduduk Mandailing sudah mulai banyak yang melakukan transaksi ke Padang Sidempuan (menjual produk ekspor dan membeli produk impor).
Natal lambat laun menjadi sepi. Natal yang sebelumnya pintu gerbang afdeeling Mandailing en Angkola seakan berbalik menjadi hanya sekadar pintu belakang. Natal seakan menjadi terpencil kembali, sebagaimana pada tahun 1845. Saat itu Natal tidak menjadi bagian dari Residentie Tapanoeli tetapi bagian daerah paling luar dari Residentie Padangsche Bovenlanden (ibukota di Fort de Kock).
Sumber : Akhir Matua Harahap.
Nur Alamsyah Batubara AMB
Senin, 02 Januari 2017
Sejarah Kota Natal jilid V
Kebijakan pertama AP Godon adalah menyeimbangkan tujuan pemerintah colonial dengan kebutuhan penduduk Mandailing en Angkola. Ada dua program simultan yang dilaksanakan AP Godon. Pertama, program membuka jalan adalah membuka isolasi daerah dengan membuka transportasi (pembangunan jalan dan jembatan) antar Tanobato dengan pelabuhan Natal. Hal ini karena produksi kopi (hasil koffiecultuur yang dimulai sejak 1841) sudah menumpuk di gudang-gudang tetapi tidak tersalurkan dengan baik. Kedua, program introduksi pendidikan modern (aksara latin) yakni menyediakan pendidikan bagi anak-anak para pimpinan penduduk di Mandheling en Ankola. Program ini dianggap pemerintah sebagai kebutuhan yang sesuai dengan karakter penduduk Mandailing en Angkola.
Setelah selesainya pembangunan jalan yang menghubungkan Mandailing dan Natal maka pada tahun 1852 lambat laun produksi kopi mulai mengalir dari Mandailing dan Angkola ke pelabuhan Natal dan diteruskan ke Padang.Oleh karena kopi Mandailing dan Angkola terbilang unik dan memenuhi semua cita rasa di Eropa dan Amerika, maka harga kopi dari Mandailing dan Ankola pelan tapi pasti makin meningkat hingga kopi Mandailing dan kopi Angkola mendapat apresiasi harga tertinggi dunia sejak 1860-an hingga tahun 1920-an.
Meski terus diawasi secara ketat, para petani makin bergairah karena harga kopi Mandailing dan kopi Ankola yang terus merangsek naik menjadi dapat dirasakan oleh petani hingga sampai ke lereng-lereng gunung. Sistem cultuur stelsel (tanam paksa) yang dulunya menjadi sumber masalah (kerusuhan) mulai hilang sendirinya karena penduduk sendiri sudah proaktif menanam (bebas tanam).
Dengan situasi dan kondisi yang semakin kondusif di Mandailing en Ankola, situasi dan kondisi di Natal juga turut kondusif. Pada tahun 1853 controleur yang ditempatkan di Natal adalah JAW van Opuijsen.
JAW van Opuijsen adalah ayah dari Charles Adriaan van Ophuijsen. Kelak Charles Adriaan van Ophuijsen. Lebih dikenal sebagai guru terkenal di Padang Sidempuan (Kweekschool Padang Sidempuan).
Onderafdeeling Angkola maju pesat
Afdeeling Mandailing en Angkola terdiri dari empat onderafdeeling (Groot Mandailing, Klein Mandailing, Oeloe en Pakantan dan Angkola). Sentra koffiecultuur sendiri sesungguhnya hanya terdapat di onderfadeling Oeloe en Pakantan dan onderafdeeling Angkola. Dari dua onderafdeeling inilah produksi kopi secara besar-besaran mengalir ke pelabuhan Natal. Kopi asal dua sentra ini di pusat lelang di Padang diberi label yang terpisah: kopi Mandailing dan kopi Angkola.
Sejak 1843 di Angkola telah bekerja dengan baik dalam koffiecultuur WF Godin sebagai controleur. Pada tahun 1846 Godin digantikan oleh LB van Planen Patel, lalu pada tahun 1948 Patel digantikan KF Stijman, lalu tahun 1851 datang AJF Hamers (berakhir 1855). Masing-masing controleur ini dapat diterima penduduk/pemimpin di Angkola. Akibatnya produksi kopi Angkola tidak efisien lagi disalurkan via Natal (terlalu jauh).
AJF Hamers yang menjadi controleur Angkola selama lima tahun melihat situasi dan kondisi dengan cermat lalu mulai merintis membuka jalan antara Padang Sidempuan dengan Loemoet (pelabuhan sungai). Pada saat AP Godon cuti ke Belanda tahun 1857 (setelah lebih dari delapan tahun menjadi asisten Residen Mandailing en Ankola) di Angkola ditempat seorang controleur yang visioner, seorang sarjana bernama WA Hennij.
Mr. WA Hennij mengikuti program yang telah dijalankan oleh Hamers. WA Hennij lebih meningkatkan kapasitas (produktivitas kopi) dan efisiensi pengakutan (low cost). Karenanya WA Hennij sangat berhasil dalam perluasan areal kopi di Angkola, tidak hanya di Angkola Djae dan Angkola Doeloe tetapi juga ke Angkola Dolok (Sipirok) dan juga sangat berhasil dalam peningkatan mutu jalan/jembatan antara Padang Sidempuan-Loemoet. Semasa Hennij menjadi controleur Angkola, juga dibangun gudang besar di Djaga-Djaga (pelabuhan laut) yang dapat meningkatkan volume/tonase kapal untuk mengangkut kopi ke Padang.
Sumber : Akhir Matua Harahap (blog)
Nur Alamsyah Batubara AMB
Kamis, 22 Desember 2016
SEJARAH KOTA NATAL jilid IV
Kota Natal
Sejak kerusuhan tahun 1842 di Mandailing dan pemecatan Controleur Natal, Eduard Doowes Dekker 1843, demi menjaga kepentingan pemerintahan (produksi komodi ekspor), pemerintah mulai ciut nyalinya lalu mulai dengan tatakelola pemerintahan yang berimbang (di satu tangan tetap dengan pengawasan senjata dan di tangan yang lain memberi stimulan yang mampu meredakan ketegangan. Stimulan itu dalam pelaksanaannya baru nanti dilakukan pada era pemerintahan yang dijabat oleh Asisten Residen AP Godon (1847-1857).
Sejak dipecatnya Eduard Douwes Dekker, pemerintahan di Natal dikendalikan oleh beberpa controleur. Anehhnya pejabat controleur definitif tidak pernah ada (hanya sebagai pejabat sementara). Ini mengindikasikan bahwa faktor Eduard Doowes Dekker masih menjadi pertimbangan.
Asisten Residen AP Godon yang humanis
Pada tahun 1846 afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli (menyusul afd, Mandailing en Angkola). Afdeeling Natal yang sempat rantai terputus 1845 (Natal masuk Residentie Air Bangis sementara Mandailing en Angkola masuk Residentie Tapanoeli) tidak terdapat koordinasi. Dengan bersatunya kedua afdeeling ini di dalam satu residentie maka fungsi koordinasi kembali terlaksana. Oleh karena di afdeeling Mandailing en Ankola statusnya asisten residen, maka controleur Natal harus selalu berkoordinasi dengan asisten residen Mandailing en Angkola.
Pada tahun 1846 asisten residen Mandailing en Ankola adalah C. Rodenburg (menggantikan TJ Willer yang telah menjabat sejak 1843). Namun Rodenburg tidak disukai pemimpin Mandailing en Ankola lalu digantikan HM Andree Wiltens (sebagai pjs). Kemudian ditunjuk asisten residen yang baru 1847 bernama JKD Lammlet, namun juga tidak mendapat penerimaan oleh pemimpin Mandailing en Ankola lalu diberhentikan dan digantikan AP Godon pada tahun 1848.
Praktis selama periode 1843 (pasca kerusuhan) hingga kedatangan AP Godon (1848) koordinasi pemerintahan antara Natal dan Mandailing en Ankola tidak berjalan kondusif. Tingkat penerimaan penduduk terhadap pejabat sangat rendah. Pada periode ini banyak penduduk Mandailing en Ankola yang eksodus ke luar Residentie Tapanoeli (ke Padang Lawas, Sumatra Timur dan Semenanjung Malaya). Migrasi ini dalam jangka panjang sangat dikhawatirkan pemerintah colonial karena dengan sendirinya jumlah tenaga kerja potensial akan berkurang. (factor penting eksploitasi eknomi colonial).
Tahun 1845 Afdeeling Mandailing dan Angkola dipisahkan dari Air Bangis. Residentie Air Bangis dihapus dan dimasukkan ke Residentie Padangsch Bovenlanden. Di Air Bangis hanya dijabat oleh Asisten Residen. Afd, Natal menjadi bagian dari Padangsch Bovenlanden. Posisi Natal menjadi dilematis. Afd, Natal tidak masuk Residentie Tapanoeli dan dari sisi geografis Natal menjadi terpencil dari Residentie Padangsch Bovenkanden. Namun, keterpencilan Natal masih tertolong dengan dibukanya jalur transportasi Mandailing-Natal. Dalam konteks regional: Mandailing menjadi hulu (sumber utama produksi) dan Natal menjadi hilir (pelabuhan).
Pada tahun 1946, Residentie Tapanoeli baru terdiri dari: Afd. Natal, Afd. Mandailing en Angkola, Afd. Baros, Afd. Singkel plus Eiland. Nias (statusnya belum menjadi afdeeling/kabupaten meski pulau Nias sudah dimasukkan sebagai bagian dari Residentie Tapanoeli sejak 1842). Sedangkan afdeeling Pertibie yang sudah ada sejak 1842, sejak tahun 1844 dihapus (kelak tahun 1876 dikembalikan lagi sebagai sebuah afdeeling, yang kurun waktunya bersamaan dengan afd. Silindoeng en Toba dimasukkan ke dalam Residentie Tapanoeli).
Oleh karena itu, Gubernur Jenderal di Batavia dan Gubernur Michiel di Padang harus mencari asisten residen yang sesuai dengan kebutuhan penduduk/pemimpin di Mandailing en Ankola. Anehnya, yang ditemukan justru bukan berpangkat setingkat asisten residen melainkan yang masih berpangkat setingkat controleur. Kandidat tersebut adalah AP Godon, contoleur yang tengah menjabat di afdeeling Singkel (yang masih Residentie Tapanoeli).
Oleh : Akhir Matua Harahap
Selasa, 11 Oktober 2016
Sejarah Kota Natal Jilid III
Eduard Douwes Dekker: Controleur Natal, 30-11-1842 hingga 25-08-1843
Rumah Multatuli di Natal, 1842 (foto 1910)
Di Natal, Eduard Doewes Dekker tidak bisa menahan keprihatinannya terhadap perlakukan petugas terhadap penduduk. Dekker yang baru beberapa bulan bertugas menjadi tempat ‘curhat’ dan keluh kesah penduduk itu diresponnya dengan baik. Dekker bahkan melakukan advokasi, suatu yang tidak lazim dilakukan oleh pejabat pemerintahan colonial. Pengawas menganggap Dekker tidak pro pemerintah (yang mengeksploitasi) dan malahan pro terhadap penduduk (yang dieksploitasi). Akibatnya, Eduard Doewes Dekker dipanggil ke Padang dan dibebaskan dari tugas controleur dan digantikan oleh H. Dipenhorst.
Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1842 sempat direkam oleh Eduard Douwes Dekker yang kala itu menjadi controleur di Natal. Melihat penderitaan rakyat Mandailing dan Ankola, Dekker berbalik arah dan melakukan pembangkangan terhadap kebijakan pemerintah. Oleh karena Dekker manjadi tempat curhat para pimpinan penduduk menyebabkan dirinya dipecat dan diombang-ambingkan bagaikan gelandangan selama setahun di Padang tanpa mendapat gaji dan dihalangi bertemu istri yang tinggal di Batavia. Kisah inilah yang menjadi pemicu awal mengapa Eduard Douwes Dekker dikemudian hari novelnya diberi judul Multatuli (aku yang menderita).
Multatuli (Saya telah menderita)
Eduard Doewes Dekker adalah Controleur Natal. Namun namanya tidak pernah terpublikasi secara resmi. Dalam Almanak Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda tahun 1842 dan tahun 1843 nama controleur Natal tidak mencantumkan nama Eduard Doewes Dekker. Nama yang tercatat dalam Almanak tersebut adalah JH van Meerten, controleur yang sudah berakhir masa tugasnya. Tampaknya, nama Eduard Doewes Dekker ingin dihapus selamanya.
Namun dengan ditemukannya surat-surat Eduard Doewes Dekker (terbukti) dan kenyataannya, Eduard Doewes Dekker telah bertugas sebagai controleur di Natal sekurang-kurangnya antara 30 November 1842 hingga 25 Augustus 1843. Informasi ini telah dengan sendirinya mengkoreksi isi Almanak 1842 atau Almanak 1843.
De Sumatra post, 18-03-1931: ‘Surat dari Eduard Douwes Dekker. Telah ditemukan dari arsip Negara untuk disimpan, controleur di Natal, Eduard Douwes Dekker menulis surat dari 30 November 1842 hingga 25 Augustus 1843. Meskipun isi dari surat-surat ini tidak signifikan dan mengingat hal ini tidak ada kaitannya dengan literatur serius yang telah muncul di dalam tahun perjalanan Multatuli, tapi pasti akan disambut, sebab di dalam surat-surat itu dapat diperhatikan tentang kepribadian (ED Dekker) yang luhur di wilayah kerjanya (di Natal)’.
Hal yang penting dari surat-surat Eduard Doewes Dekker antara 30 November 1842 hingga 25 Augustus 1843 di satu sisi telah menunjukkan jatidirinya sebagai pribadi yang berkarakter yang boleh diartikan sangat peduli terhadap penderitaan penduduk Mandailing/Angkola akibat penerapan koffiestelsel (system tanam paksa), sementara di sisi lain isi surat-surat (yang ditahan tersebut) diduga menjadi penyebab mengapa Eduard Doewes Dekker dipecat dan ditelantarkan setahun di Padang.
Beberapa tahun kemudian, nama Eduard Doewes Dekker karena dianggap tuduhan palsu kepada lalu direhabilitasi. Eduard Doewes Dekker tidak melakukan pelanggaran administrasi (penyelewengan) dan kemanusian tetapi justru menyuarakan perlindungan kemanusiaan. Setelah direhabilitasi Eduard Doewes Dekker dipekerjakan kembali di tempat lain. Selama bertugas di berbagai tempat, Eduard Doewes Dekker masih terus menemukan dan melihat seperti apa yang dilihat, didengar dan dipahaminya di Mandailing/Angkola. Berbagai penderitaan penduduk terus mengiang di telinganya lalu menulis buku berjudul Max Havelaar dengan tokoh Multatuli. Buku ini (terbit 1860) menjadi heboh di Hindia Belanda dan terkenal hingga ini hari. Tokoh Multatuli yang digambarkannya bermula di Natal (penderitaan penduduk Mandailing/Angkola).
Algemeen Handelsblad, 07-07-1842
Eduard Doewes Dekker di Hindia Belanda bukan sendiri. Eduard memiliki saudara kandung bernama Jan Doewes Dekker. Dia adalah seorang militer.
Oleh : Akhir Matua Harahap
Selasa, 20 September 2016
Sejarah Kota Natal jilid II
Pada tahun 1933 terjadi pergerakan militer dari Natal (juga dari Air Bangis) untuk mendukung perang total Belanda terhadap kaum Padri yang berpusat di Bonjol. Tahun 1934 di Panjaboengan dibangun benteng (yang kemudian disebut Benteng Elout). Para hulubalang Mandailing dan Angkola ikut berpartisipasi. Pada tahun 1836 arsitektur pemerintah Noordelijke Afdeeling mengalami perubahan. Statusnya ditingkatkan menjadi Asisten Residen (JA Moser). Status semi militer di Natal dikembalikan menjadi status sipil, sementara jabatan asisten ditempatkan di Mandailing (F. Bonet, pensiunan militer yang sebelumnya menjadi posthouder di Tapanoeli) dan di Rao (W. Ivats). Dengan demikian Noordelijke Afdeeling meliputi Natal, Tapanoeli, Air Bangis, dan Rao. Di Air Bangis, Komandan digantikan oleh militer aktif berpangkat letnan dua. Pada tahun 1837 perlawanan Padri berhasil dilumpuhkan, tetapi di Mandailing dan Ankola kaum Padri dibawah Toekoe Tambusai masih melakukan tekanan terhadap penduduk. Pada tahun 1838 dibangun benteng Pijorkoling sebagai salah satu basis untuk melunpuhkan pengikut Tambusai di Pertibie (kemudian berubah nama menjadi Padang Lawas). Perlawanan Tambusai berakhir tahun 1838. Atas dasar ini wilayah yang berada di sebelah utara Sumatra’s Westkust dibentuk satu afdeeling (Noordelijke afdeeling). Pada tahun 1838 terjadi perubahan drastic. Noordelijke afdeeling dipimpin oleh seorang Resident (yang berkedudukan di Air Bangis) dimana di Natal tetap berstatus asisten residen. Pada tahun 1839 para pemimpin Batak (Mandailing/Angkola) menyepakati sejumlah keputusan dengan pejabat-pejabat Belanda. Salah satu kesepakatan adalah menerapkan koffiecultuur (1840). Mandailing terdiri dari 38 kampong yang dikepalai oleh para Radja dan Panghoeloe yang secara keseluruhan punduduknya berjumlah 40.000 jiwa. Loeboe 10.000 jiwa. Angkola 10.000 jiwa. Pertibie 8.000 jiwa. Pada tahun 1840 di satu sisi Natal diturunkan statusnya dari Asisten Residen menjadi Controleur. Sementara di sisi lain dibentuk afdeeling Mandailing en Angkola yang dipimpin oleh seorang Asisten Residen berkedudukan di Panjaboengan. Selama masa perang, F. Bonet yang bertugas selama tiga tahun (1836-1839) berkedudukan di Kotanopan. Ini berarti dimulai pemerintahan sipil di Mandailing (dan Angkola). Struktur pemerintah menjadi Residentie Air Bangis dimana residen berkedudukan di Air Bangis. Dengan penambahan cakupan wilayah ke Baros, maka Residentie Air Bangis terdiri dari: afdeeling Air Bangis, afd. Natal, afd. Mandailing en Angkola, afd, Tapanoeli dan afd. Baros. Hal lain di afd. Tapanoeli tetap hanya diisi oleh seorang posthouder, sementara di afd. Baros langsung diisi oleh pejabat sipil. Afdeeling Rao yang sebelumnya masuk Residentie Airbangis dipisahkan dan dimasukkan ke Residentie Padangsch Bovenlanden (ibukota Fort de Kock). Pada tahun 1842 afd, Tapanoeli dan afd. Baros dipisahkan dari Residentie Air Bangis dan besama-sama dengan afdeeling baru (Pertibie, Singkel dan Nias) dibentuk residentie yang baru yakni Residentie Bataklanden (yang terdiri dari dua afdeeling: Tapanoeli dan Pertibie). Meski disebut Residentie pejabat tertinggi belum setingkat resident. Pejabat Residentie Bataklanden dan asisten residen afd. Tapanoeli sama-sama berkedudukan di Sibolga. Di afd. Pertibie pejabat tertinggi belum setingkat asisten residen. Pejabat asisten residen berkedudukan di Biela. Di Baros, Singkel dan Biela ditempatkan masing-masing seorang Controleur. Residentie Air Bangis menjadi hanya terdiri dari afd. Airbangis, afd, Natal, afd, Mandailing en Angkola plus afd. Rao (yang kembali masuk Residentie Air Bangis). Di Natal tetap dijabat seorang Controleur. Sementara di Rao ditempatkan seorang Asisten Residen yang dibantu satu controleur. Di Afdeeling Mandailing en Ankola ditempatkan dua controleur yakni di afd. Angkola dan afd. Oeloe en Pakantan.
(oleh : Akhir Matua Harahap)
Selasa, 06 September 2016
Sejarah Gerakan Mahasiswa
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.
1908
Boedi Oetomo, adalah suatu wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya.
Pada konggres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.
Dalam 5 tahun permulaan Budi Oetomo sebagai perkumpulan, tempat keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan lk.10.000 anggota.
Disamping itu, para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, salah satunya Mohammad Hatta yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia, tahun 1925.
Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain,seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxisme, menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju "kemajuan yang selaras" dan terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU. Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik.
Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.
1928
Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.
Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, Kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.
Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928, dimotori oleh PPPI.
1945
Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).
Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.
Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa.
Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok.
1966
Sejak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, di antaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.
Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik. Misalnya, GMKI Gerakan Mahasiswa kristen Indonesia, PMKRI Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia dengan Partai Katholik,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.
Di antara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI lebih menonjol setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil Pemilu 1955. CGMI secara berani menjalankan politik konfrontasi dengan organisasi mahasiswa lainnya, bahkan lebih jauh berusaha memengaruhi PPMI, kenyataan ini menyebabkan perseteruan sengit antara CGMI dengan HMI dan, terutama dipicu karena banyaknya jabatan kepengurusan dalam PPMI yang direbut dan diduduki oleh CGMI dan juga GMNI-khususnya setelah Konggres V tahun 1961.
Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni PMKRI, HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.
Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.
Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Cosmas Batubara (Eks Ketua Presidium KAMI Pusat), Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi ketiganya dari PMKRI,Akbar Tanjung dari HMI dll. Angkatan '66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan '66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabibet pemerintahan Orde Baru.
1974
Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer.
Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktik kekuasaan rezim Orde Baru, seperti:
Golput yang menentang pelaksanaan pemilu pertama pada masa Orde Baru pada 1972 karena Golkar dinilai curang.
Gerakan menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah pada 1972 yang menggusur banyak rakyat kecil yang tinggal di lokasi tersebut.
Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah, selanjutnya apa yang disebut gerakan "Mahasiswa Menggugat" yang dimotori Arif Budiman yang progaram utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi.
Menyusul aksi-aksi lain dalam skala yang lebih luas, pada 1970 pemuda dan mahasiswa kemudian mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK) yang diketuai oleh Wilopo. Terbentuknya KAK ini dapat dilihat merupakan reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap tim-tim khusus yang disponsori pemerintah, mulai dari Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), Task Force UI sampai Komisi Empat.
Berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD.
Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan.
Dalam tahun 1972, mahasiswa jtyang bernama aji uga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan,misalnya terhadap proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.
Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya demonstrasi memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia dan peristiwa Malari pada 15 Januari 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta meneriakan isu "ganyang korupsi" sebagai salah satu tuntutan "Tritura Baru" disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya. Gerakan ini berbuntut dihapuskannya jabatan Asisten Pribadi Presiden.
1977-1978
Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes kecil tetap ada.
Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif. Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakikat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat lokal. Gerakan ini juga mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.
Awalnya, pemerintah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa, maka pada tanggal 24 Juli 1977 dibentuklah Tim Dialog Pemerintah yang akan berkampanye di berbagai perguruan tinggi. Namun, upaya tim ini ditolak oleh mahasiswa. Pada periode ini terjadinya pendudukan militer atas kampus-kampus karena mahasiswa dianggap telah melakukan pembangkangan politik, penyebab lain adalah karena gerakan mahasiswa 1978 lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan aksi diwilayah kampus. Karena gerakan mahasiswa tidak terpancing keluar kampus untuk menghindari peristiwa tahun 1974, maka akhirnya mereka diserbu militer dengan cara yang brutal. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan NKK/BKK di seluruh Indonesia.
Soeharto terpilih untuk ketiga kalinya dan tuntutan mahasiswa pun tidak membuahkan hasil. Meski demikian, perjuangan gerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka untuk menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.
Gerakan bersifat nasional namun tertutup dalam kampus, Oktober 1977Sunting
Gerakan mahasiswa tahun 1977/1978 ini tidak hanya berporos di Jakarta dan Bandung saja namun meluas secara nasional meliputi kampus-kampus di kota Surabaya, Medan, Bogor, Ujungpandang (sekarang Makassar), dan Palembang. [1] 28 Oktober 1977, delapan ribu anak muda menyemut di depan kampus ITB. Mereka berikrar satu suara, "Turunkan Suharto!"�. Besoknya, semua yang berteriak, raib ditelan terali besi. Kampus segera berstatus darurat perang. Namun, sekejap kembali tentram.[2]
Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1977, berkumpulnya mahasiswa kembali
10 November 1977, di Surabaya dipenuhi tiga ribu jiwa muda. Setelah peristiwa di ITB pada Oktober 1977, giliran Kampus ITS Baliwerti beraksi. Dengan semangat pahlawan, berbagai pimpinan mahasiswa se-Jawa hadir memperingati hari Pahlawan 1977. Seribu mahasiswa berkumpul, kemudian berjalan kaki dari Baliwerti menuju Tugu Pahlawan.
Sejak pertemuan 28 Oktober di Bandung, ITS didaulat menjadi pusat konsentrasi gerakan di front timur. Hari pahlawan dianggap cocok membangkitkan nurani yang hilang. Kemudian disepakati pusat pertemuan nasional pimpinan mahasiswa di Surabaya.
Sementara di kota-kota lain, peringatan hari Pahlawan juga semarak. Di Jakarta, 6000 mahasiswa berjalan kaki lima kilometer dari Rawamangun (kampus IKIP) menuju Salemba (kampus UI), membentangkan spanduk,"Padamu Pahlawan Kami Mengadu". Juga dengan pengawalan ketat tentara.
Acara hari itu, berwarna sajak puisi serta hentak orasi. Suasana haru-biru, mulai membuat gerah. Beberapa batalyon tempur sudah ditempatkan mengitari kampus-kampus Surabaya. Sepanjang jalan ditutup, mahasiswa tak boleh merapat pada rakyat. Aksi mereka dibungkam dengan cerdik.
Konsolidasi berlangsung terus. Tuntutan agar Soeharto turun masih menggema jelas, menggegerkan semua pihak. Banyak korban akhirnya jatuh. Termasuk media-media nasional yang ikut mengabarkan, dibubarkan paksa.
Pimpinan Dewan Mahasiswa (DM) ITS rutin berkontribusi pada tiap pernyataan sikap secara nasional. Senat mahasiswa fakultas tak henti mendorong dinamisasi ini. Mereka bergerak satu suara. Termasuk mendukung Ikrar Mahasiswa 1977. Isinya hanya tiga poin namun berarti. "Kembali pada Pancasila dan UUD 45, meminta pertanggungjawaban presiden, dan bersumpah setia bersama rakyat menegakan kebenaran dan keadilan".
Peringatan 12 tahun Tritura, 10 Januari 1978, peringatan 12 tahun Tritura itu jadi awal sekaligus akhir.
Penguasa menganggap mahasiswa sudah di luar toleransi. Dimulailah penyebaran benih-benih teror dan pengekangan.
Sejak awal 1978, 200 aktivis mahasiswa ditahan tanpa sebab. Bukan hanya dikurung, sebagian mereka diintimidasi lewat interogasi. Banyak yang dipaksa mengaku pemberontak negara.
Tentara pun tidak sungkan lagi masuk kampus. Berikutnya, ITB kedatangan pria loreng bersenjata. Rumah rektornya secara misterius ditembaki orang tak dikenal.
Di UI, panser juga masuk kampus. Wajah mereka garang, lembaga pendidikan sudah menjadi medan perang. Kemudian hari, dua rektor kampus besar itu secara semena-mena dicopot dari jabatannya. Alasannya, terlalu melindungi anak didiknya yang keras kepala.
Di ITS, delapan fungsionaris DM masuk "daftar dicari" Detasemen Polisi Militer. Sepulang aksi dari Jakarta, di depan kos mereka sudah ditunggui sekompi tentara. Rektor ITS waktu itu, Prof Mahmud Zaki, ditekan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera membubarkan aksi dan men-drop out para pelakunya. Sikap rektor seragam, sebisa mungkin ia melindungi anak-anaknya.
Beberapa berhasil tertangkap, sisanya bergerilya dari satu rumah ke rumah lain. Dalam proses tersebut, mahasiswa tetap "bergerak". Selama masih ada wajah yang aman dari daftar, mereka tetap konsolidasi, sembunyi-sembunyi. Pergolakan kampus masih panas, walau Para Rektor berusaha menutupi, intelejen masih bisa membaca jelas.[2]
1990
Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Dikalangan mahasiswa secara kelembagaan dan personal terjadi pro kontra, menamggapi SK tersebut. Oleh mereka yang menerima, diakui konsep ini memiliki sejumlah kelemahan namun dipercaya dapat menjadi basis konsolidasi kekuatan gerakan mahasiswa. Argumen mahasiswa yang menolak mengatakan, bahwa konsep SMPT tidak lain hanya semacam hiden agenda untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong kemungkinan aliansi mahasiswa dengan kekuatan di luar kampus.
Dalam perkembangan kemudian, banyak timbul kekecewaan di berbagai perguruan tinggi karena kegagalan konsep ini. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh korporatisasi negara termasuk birokrasi kampus. Sehingga, tidaklah mengherankan bila akhirnya berdiri Dewan Mahasiswa di UGM tahun 1994 yang kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air sebagai landasan bagi pendirian model organisasi kemahasiswaan alternatif yang independen.
Dengan dihidupkannya model-model kelembagaan yang lebih independen, meski tidak persis serupa dengan Dewan Mahasiswa yang pernah berjaya sebelumnya upaya perjuangan mahasiswa untuk membangun kemandirian melalui SMPT, menjadi awal kebangkitan kembali mahasiswa pada tahun 1990-an.
Gerakan yang menuntut kebebasan berpendapat dalam bentuk kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik di dalam kampus pada 1987 - 1990 sehingga akhirnya demonstrasi bisa dilakukan mahasiswa di dalam kampus perguruan tinggi. Saat itu demonstrasi di luar kampus termasuk menyampaikan aspirasi dengan longmarch ke DPR/DPRD tetap terlarang.
1998
Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.
Sejarah Kota Natal jilid 1
Sejarah Kota Natal pada awalnya adalah bagian dari sejarah pelabuhan-pelabuhan pantai barat Sumatra. Pada tahun 1825 pelabuhan Natal menjadi wilayah penguasaan Belanda (berdasarkan Traktak London, 17 Maret 1824).
Peta kuno, 1619 (peta Portugis)
Sejak kedatangan pelaut-pelaut Eropa di Nusantara (menggantikan pelaut/pedagang dari India, Persia dan Arab), nama Natal belumlah popular. Pelaut Portugis dan Spanyol yang pertamakali datang. Kemudian disusul Perancis, Inggris dan Belanda. Pelaut-pelaut Portugis telah memetakan wilayah Nusantara. Ketika pelaut Belanda datang (1895) diantara nama-nama tempat terdapat tiga nama yang terpetakan yakni: Baros, Aroe dan Batahan. Natal tidak teridentifikasi.
Kehadiran Portugis menghilang di sekitar Sumatra oleh Belanda (Malaka direbut). Hanya tersisa Inggris dan Belanda, setelah Inggris menggusur kehadiran Perancis. Perseteruan Inggris-Belanda di Eropa berimbas pada pengusaan wilayah di Nusantara (termasuk di Sumatra). Inggris menggantikan Belanda. Lalu kemudian berdasarkan Traktat London terjadi ‘tukar guling’ Bengkulu dan Malaka.
Leydse courant, 26-06-1761: ‘..4 Februari 1760, kapal Perancis berlabuh di Air Bangis..7 Februari 1860 Inggris mengambil pelabuhan Natal dari Perancis. Pelabuhan Natal ini diduduki oleh 40 Eropa dan 60
Pada tanggal 12 Mei 1829 Belanda mengambil alih Kota Padang dari Inggris. Residentie Sumatra’s Westkust dibentuk dari Pariaman hingga Indrapoera (menjadi Padaugsche bovenlanden). Kemudian wilayah Belanda di perluas di pantai dari Singkil hingga Ujung Masang dan di pedalaman Mandheling en Rao. Pada tahun 1830 di Natal dan Tapanoeli ditempatkan seorang posthouder. Di Natal posthouder bernama A.H Intveld.
Kekuasaan Baros hingga ke Natal. Baros pada tahun 1668 terdapat post VOC. Pada tahun 1755-1760 diambil alih oleh Inggris.
Penduduk di Kota Natal sendiri adalah penduduk melting pot. Mereka adalah pendatang yang umumnya berdagang. Menurut Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 2, 1839, di Natal terdapat enam suku:
1. Soekoe Menangkabauw. Menangkabausche stam.
2. Soekoe Barat, Westelijke stam.
3. Soekoe Padang, stam van Padang.
4. Soekoe Bandar Sepoeloe, stam uit de plaatsen gelegen tusschen Padang en Benkoelen.
5. Soekoe Atje, stam van Atjin.
6. Soekoe Rauw, stam van Rauw.
Setiap suku dikepalai oleh seorang Datu dan para Datu dipimpin oleh seorang Radja yang disebut Toeankoe Besar. Lanskap Natal juga meliputi hulu Kota Natal terdapat Linggabayu, di sebelah utara, di sebelah selatan Batahan dan Air Bangis (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 2, 1839). Di Linggabayu terdapat Radja (dan panglima) yang mana penduduknya Mandailing 3.000 jiwa. Di Batahan terdapat penduduk Mandailing sebanyak 2.500 jiwa yang dikepalai oleh seorang Radja. Wilayah Batahan termasuk pulau Tamang. Di selatan Batahan terdapat Air Bangis yang dikepalai oleh seorang Radja (dan Panghoeloe).
Di pedalaman (Batak) penduduk Mandailing dan Angkola tengah berperang melawan pasukan Padri dari Bonjol. Kaum Padri adalah salah satu sekte yang mengusung pemurnian agama (dengan kekerasan). Di Minangkabau, Padri memerangi kaum adat (kerajaaan). Di Tanah Batak, Padri melakukan eksploitasi dengan dalih pemurnian agama. Para pemimpin Batak (Mandailing/Angkola) meminta bantuan pihak Belanda (untuk mengamankan Tanah Batak).
Pada tahun 1832 di Natal dimulai pemerintahan semi-militer dengan jabatan Civiel-Militaire Kommandant berpangkat letnan satu (dibantu dua pejabat sipil). Ini dimaksudkan untuk menjalankan pemerintahan sipil di Natal yang sudah kondusif dan ikut mendukung penyerangan militer di pusat Padri di Bonjol. Hal yang sama juga di Air Bangis, yang sebelumnya bersatus Civiel Kommandat diubah menjadi Civiel-Militaire Kommandant (pangkat sipil, bukan militer). Pada tahun 1833 Natal, Tapanoeli dan Air Bangis disatukan menjadi satu afdeeling yang diberi nama Noordelijke Afdeeling dengan ibukota Natal..
Selasa, 09 Juni 2015
Peninggalan Sejarah dan tempat wisata di Pantai Barat MADINA
Terdapat di Banjar Aceh Perlak Talas Kampung Sawah Kecamatan Natal. Disini terdapat 3 buah sumur batu yang digali oleh Syekh Abdul Fattah Mardia yang kelahiran disitu sebagai penampung (besar), tempat wudhu’ (kodak) dan dibawahnya tempat mandi. Sumur penampung dihuni oleh Kura kura tunggal dan beberapa ikan tawar. Dahulu, tempat ini dikeramatkan dan tempat memasang dan membayar niat dan ramai dikunjungi pada Hari Raya Puasa 6 (7 Syawal).
2. TUGU PROKLAMASI KEMERDEKAAN R.I
Terdapat disebelah Barat lapangan Merdeka Natal disamping meriam Stamford Rafles yang didirkan pada tahun 1945. Ketika terdengar berita Kemerde kaan RI, BS Farmansyah Sutan Botok menaikkan bendera Merah Putih , lalu ditembak oleh seorang serdadu Jepang yang berasal dari Ambon
3. KUALO TUO :
Terdapat di Jambuo Aceh Desa Pasar VI Natal sebagai batas dengan Kerajaan Sinunukan. Kuala ini tempat masuknya Biduk Tambangan (Ajung) rombongan Datuk Imam dari Air Bangis dan Pangeran Indra Sutan dari Indopuro pada awal abad ke – 17.
4. BUKIK COKONG SIMPANG AMPEK :
Terdapat di Bukik Simungkuk, Simpang Ampek Kecamatan Natal yaitu makam Lie Moo Kim. Makam lain adalah di Bukik Cokong di Pasar Kabun yaitu makam Keluarga Besar Sho Kim Liong, Sho Kantin Ho ( Abdul Hafiz ). Dll.
5. TAMPAT PINCURAN DEWA :
Terdapat di Tampat Pincuran Dewa , Bukik Simungkuk Kecamatan Natal, sekitar 300 meter dari Jembatan Karan. Disini terdapat makam Ulama Ranah Nata seperti Syekh Abdul Fattah Sinantiku, Syekh Abdul Rauf Sinantiku dan Syekh Alwi. Orangtua mereka Si Jebak Rajo Barat yang berasal dari Payakumbuh masuk ke Ranah Nata melalui Muara Karan. Pada tahun 1985, terjadi musibah besar atas hilangnya sepasang siswa SMPN 1 Natal di hari kedua Ebtanas (Suyono-Suyati ) ,warga Transmigrasi Sikarakara.
6. BENTENG PORTUGIS :
Terdapat di Pasar Benteng, pinggir sungai Batang Nata, satu-satunya benteng yang tinggal dari beberapa benteng karena telah masuk kedalam sungai Batang Nata. Bangunan ini tinggal sebagi an lagi karena dijadikan perumahan penduduk atau gudang ikan. Perlu diadakan rehabilitasi atau pemugaran agar tidak punah ditelan masa.
7. BENTENG JEPANG :
Terdapat di tepi pantai yang kini hampir tengge lam ditelan masa. Benteng ini diperkirakan di bangun tahun 1942 (masuknya Jepang ke Ranah Nata). Benteng sejenis ini juga terdapat di pinggir pantai Pasa Jirak , dekat Jembatan Karan dan di Sawah Niru Kecamatan Natal. Sebagian sudah hancur ditelan perumahan penduduk dan masuk sungai Batang Nata.
8. TANGSI HITAM :
Terdapat di pinggir lapangan Merdeka Natal , sebelah Utara , tetapi kini sudah dirobah bangu nannya dan menjadi Rumah Tahanan ( Rutan ). Tangsi Hitam di bangun oleh Belanda pada tahun 1864 oleh Kontler WB Devidson.
Catatan : Artikel WC Terpanjang dalam buku Indonesiana Majalah Tempo.
9. MERIAM TUANKU RANAH NATA :
Terdapat di rumah kediaman Bapak Sutan Dur Muhayatsyah yang diperkirakan adalan meriam Tuanku Sutan Hiodayatsyah atau Tuanku Sutan Muhammad Nata.
10. KUBUR MADAM :
Terdapat di Simpang Badayuik, bekas perumahan Hulubalang Raja. Sekarang telah hancur dan men jadi Kantor PRPTE Disbun. Disini ditemukan pa pan nama Yohanna Petronella (1866), Pieter Meijer dan Pieter Leonard (1874 ) dan Mont Evens (1878).Dibongkar pada tanggal 27 Januari 1992 ,gara-gara adanya mimpi Porkas/ SDSB.
11. PAGAR BESI :
Terdapat di Bukik Lansano, lembah Bukik Bande ra Kecamatan Natal. Disini bermakam Syekh Abdul Malik Baleo Nata yang merambakkan Agama Islam ke Mandailing sampai ke Dalu-dalu.
12. BRAND KAS JEPANG :
Terdapat dimuka bangunan Sekolah Polisi I Sumatera Utara yang kini menjadi SDN No.142704 Natal. Brand Kas ini dibongkar pada tahun 1965 dan disitu banyak terdapat mata uang Jepang seperti gambar pisang dll.
13. MERIAM STAMFORD RAFFLES :
Terdapat di samping Tugu Proklamasi yang mengarah ke Ujung Rakat. Benteng ini dibangun tahun 1818 , sewaktu Stamford Raffles tiba di Ranah Nata.
14. SEKOLAH POLISI PERTAMA SUM.UTARA :
Salah satu bangunan arsitek Belanda yang sampai saat ini masih kuat , tapi atapnya sudah diganti dengan seng yang baru
15. SURAU TAMBAK
Terdapat di Pasar Tambak Ranah Nata yang kini bernama Masjid Al – Fattah Ranah Nata. Masjid ini didirikan oleh Syekh Alwi bersama Syekh Abd. Rauf dan Syekh Abd.Fattah Sinantiku. Tabek Surat Tambak adalah tempat keramasnya si Pamaga, Dukun yg masuk Islam via Syekh Abd.Fattah
16. RUMAH GADANG SINGKUANG
Rumah Kerajaan Singkuang terdapat disamping Masjid Kerajaan Singkuang yang telah diperbaharui, sebab yang aslinya sudah musnah dan berlokasi di tanah lapang Singkuang. Dari Rumah Gadang yang pertama yang terbuat dari tiang gading gajah dan sandi ikan paus itu dipindahkan oleh Raja Jasi Murung dan dibangunkan ke Rumah Gadang yang sekarang serta Masjid Kerajaan’
17. MAKAM RAJA SINGKUANG
Makam ini terdapat di kawasan pekuburan tanah wakaf yang sekarang masih terpelihara,walaupun sebagian sudah hancur. Diantaranya yang masih dapat terbaca adalah makam Raja Merangkat ,Jasa Murung dan Jandi Mora.
18. MASJID KERAJAAN SINGKUANG
Terdapat disamping Rumah Gadang Singkuang. Disampingnya terdapat sebuah makam panjang, tetapi tidak ada yang mengetahui siapa nama yang bermakam disitu.
19. MAKAM ULAMA BERANTAI.
Makam seorang Ulama terkemuka (besar kemungkinan makam Guru Habib Daulay) terdapat di kawasan Makam Kerajaan Singkuang.
20. BANGUNAN GAYA BELANDA :
Terdapat di Bukik Tanah Badagun Simpang Ampek dan di Pasar Kabun Ranah Nata. Rumah peninggalan Marah Salim , kini tinggal tanpa penghuni. Rumah peninggalan Mukti dihuni oleh zuriatnya.
21. MAHKOTA PENGANTIN ( CABANG ) :
Cabang adalah merupakan fakta Sejarah dimana Canag ini diriru dari topi Portugis,tapi mempu nyai beberapa unsur sejarah dimana terdiri dari tiga bagian yang berbentuk kuncup Melati yang melambangkan Tungku Tigo Sajarangan atau Tali Bapilin Tigo yang melambangkan 3 Raja di Ranah Nata yaitu Raja Adat ( Tuanku ), Raja Ibadat ( Ulama ) dan Raja Alim ( Pemerintah/Umara ) yang dibuat dimasa Permaisuri Puti Junjung.
22. SANGGUO GADANG :
Mahkota Pengantin Anakdaro Ranah Nata ini terdiri dari tujuh tajuk yang mengisyaratkan bahwa Anakdaro adalah pelambang Bundo Kanduong yang harus mempunyai Tujuh Sifat.
23. CAP RAJA RANAH NATA :
Terdapat dirumah kediaman Bapak Zumkhasri atau di Linggabayu Ranah Nata yaitu cap Tuanku Sembah Alam Marahimpun di Kerajaan Lingga Bayu.
24. BONGKAH EMAS :
Salah satu yang dicari oleh para saudagar Ero pah, Asia di Ranah Nata yang terkenal dengan lokasi Tambang Beramuk Ranah Nata yaitu tempat menggore emas sehingga terjadi perkelahi an dengan mengamuk.
25. KANTOR ASISTEN WEDANA
Bangunan ini sekarang tidak ada lagi dan telah berganti dengan Kantor Telekomunikasi Natal dengan arsitek terbaru. Mulai dari H.Syariful Alamsyah (1946 ) s.d. Hakimil Nasution BA (1978) Aswed berkantor disini.
26. BATANG MAHONI :
Terdapat di sekeliling lapangan Merdeka Natal sampai ke Jembatan Ayie Cama. Sebagian telah hancur ditelan zaman dan sebagian ditebang oleh orang yang melupakan Sejarah. Penebangan tera khir pada hari Minggu tgl. 15 April 2007
27. RUMAH NAN GADANG.
Rumah Gadang sebenarnya terdapat di Padang Malako dan Kampung Bukik, tetapi sekarang hanya tinggal puing-puing sandi dan pecahan keramik yang tertimbun di dalam tanah. Di sungai Batang Nata, pernah dijumapi ceret besi oleh penduduk Perlak Talas Kampung Sawah , tapi sekarang sudah raib tak tentu rimbanya.
Rumah Gadang yang asli
28. MADRASAH SOEBOELOEL CHAER ;
Madrasah Soeboeloel Chaer ini di dirikan pada tahun 1921 yang dikepalai oleh Sutan Chalifah. Madrasah ini bina oleh perkumpulan Djamijatul Chairijah yang diketuai oleh Tuanku Mudo. Madrasah ini berganti nama Budi Bahagia dan kemudian Madrasah Raudlatul Ilmiyah yang merupakan cikal bakal Muhammadiyah Cabang Natal. Sekarang bernama Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 20 Natal
29. JEMBATAN ACEH – RAO.
Jembatan ini berada di Kampung Solok, didepan Masjid Lama yang menyeberang ke Pasie Jaruju yang menghubungkan Jambuoh Aceh (Seberang) dengan Jambuoh Rao(Pusat Pasar Ranah Nata). Jembatan ini kemudian diterjang banjir Galodo yang akhirnya roboh dan sampai kini tetap sunyi senyap tanpa kelanjutan pembangunannya
30. MUARO KARAN :
Tempat ini mempunyai sejarah yaitu disinilah du lu masuknya Si Jebak Rajo Barat dan Sinantiku (orangtua Syekh Abd.Fattah) mendarat dari Tiku dan Payakumbuh.
Tempat ini juga disebut Muaro Susu untuk mengenang sepasang siswa SMP Negeri Natal yg terbenam dimuara ketika melintasinya disebab kan jembatan Karan runtuh. Suyono dan Suyati, warga Transmigrasi Sikarakara ketika hari kedua Ebtanas 1985.
31. PONDOK ULAR
Tempat ini adalah sejarah terbaru dimana se orang Putra Malako memberanikan diri membu ka tanah ulayat nenek moyangnya kawasan sebu ah perusahaan yang lahannya topang tindih. Di pondok ini dia bermukim dengan memelihara se ekor yang datang kesitu dengan peliharaan ayam putih sesuai dengan mimpi yang datang dari Jirat Malako Labuohan Ajuong – Kampung Sawah. Pondok ini dinamakan ULAR adalah singkatan dari Urusan Lancar bila Ada Rupiah.
Kamis, 01 Januari 2015
sekilas tentang Ranah Nata (Kota Natal)
TANGGAL
TAHUN RIWAYAT DAN KHABAR
Salah satu Kota Tua yang terkenal namanya sekarang adalah Natal yang telah diresmikan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak tahun 1946 waktu Asisten Wedananya H.Sjariful Alamsjah (Sibolga) * 16 yang diwariskan oleh kolonial sejak tahun 1492 -1496. * 13 Kemudian dinamakan oleh bangsa Portugis tahun 1525. * 13, oleh Inggris tahun 1672. * 01 dan tahun 1762 oleh Belanda. * 13 serta Jepang ditahun 1942 dengan nama Nataru.
Selama 421 tahun diabadikan oleh kolonial dan dilanjutkan oleh Pemerintah selama 54 tahun yang berjumlah 475 tahun sudah, sedangkan masyarakat adat Ranah Nata sudah 1 Alaf (1000 tahun). * 21 lamanya menyebutkan tanah ulayat nenek moyangnya dengan nama Ranah Nata. Tak ada seorangpun masyarakat adat Ranah Nata yang menambahkan huruf el (L) atau er (R) atas nama kampung halamannya itu kecuali masyarakat yang manda atau pendatang ke Ranah Nata.
Sebenarnya, namanya adalah Ranah Nata yang dinamakan oleh saudagar Arab Ibnu Bathuthah pada abad ke - 7 atau tahun 1325 - 1350. * 02, sewaktu mereka singgah dari sebuah ranah yang mereka buka untuk lokasi penggergajian kayu yang mereka namakan Sing Kwang atau Tanah Baru. * 21. Sewaktu beliau singgah, pada waktu itu terjadi acara hukuman terhadap seorang terhukum dengan cara didera diatas sebuah bukit kecil yang sekarang bernama Bukik Bandera. Sebenarnya adalah Bukit Mandera yaitu bukit tempat mendera. * 13. Karena keterharuan Ibnu Bathuthah mendengar suara jeritan dari seseorang yang berasal dari sebuah bukit kecil itu, lalu beliau menamakannya Ranah Nata.
Ranah Nata berasal dari dua kata bahasa Arab yaitu Ranah * 14 dan Nata * 14.
Ranah artinya "Jeritan". * 14, sedangkan Nata atinya "Bukit Kecil". * 14 dan untuk lebih jelasnya buka buku Qamus Al Idris Marbawiy halaman 251 dan 298 oleh Syekh Muhammad Idris al Marbawiy al-Azhari, terbitan CV.Karya Insani Indonesia. Nama Ranah Nata kemudian diperkuat oleh Datuk Imam dan Pangeran Indra Sutan yang datang ke Ranah Nata di abad ke 17 dengan mendirikan Kerajaan Ranah Nata di Malako yang berbasis di Padang Malako .13.
Kita sama mengetahui bahwa pada zaman dulu hubungan adalah melalui laut dan untuk itu mereka masuk ke Ranah Nata dari Air Bangis dan Indrapura dengan memasuki Kuala Tuo mengarungi sungai Batangnata. . * 13 Mereka singgah di sebuah tempat yang bernama Tanjung Bungo untuk melepaskan lelah dan shalat Zhuhur. Setelah mereka makan dan sambil istirahat, Datuk Imam melantunkan sebuah pantun yang berbunyi:
Daun pauoh daun barambang,
Bungo tanjuong di padeta
Dari jauoh kito datang,
Sampei ka kampuong Ranah Nata.
kemudian Pangeran Indra Sutan menjawabnya dengan sebuah pantun pula yaitu:
Laweh lauiknyo Ranah Nata,
Alang lauik manyembah ikan
Lapeh ensuik duduok basanda,
Kanyang paruik sasudah makan
Acara berbalas pantun ini dimeriahkan oleh Puti Rani dan Puti Ratiah yang ikut bersama mereka dengan membawa sebatang aur duri, sebatang pinang, sebungkal tanah, setagik air dan seekor anak buaya sambil menuju sebuah biduk tambangan yang bernama ajung. Setelah mereka melanjutkan perjalanan, mereka singgah dan menambatkan ajung mereka dimudik sungai Pinang sambil melihat kemana arah tujuan akan mendirikan sebuah pemukiman mereka. Lebih kurang 400 meter dari persinggahan mereka, lalu meninggalkan tempat tambatan ajung tersebut yang kemudian dinamakan Labuhan ajung, menuju sebuah tempat ulayat padang yang luas dan dinamakan mereka Padang Malako.
Sewaktu kedatangan mereka, jauh sebelumnya dibagian ranah tepi pantai sudah ada orang-orang Bugis sekitar tahun + 900 dizaman Nabi Sulaiman As, sedangkan bagian pedala mannya dihuni oleh orang Batak (baca Mandailing) * 21
Sesudah kedatangan Ibnu Bathuthah, pada tahun 1412 didatangi pula oleh Syekh Maroko Maulana Malik Ibrahim dan disusul oleh saudagar Cina H.Sham Poboo pada tahun 1416 dan tahun 1513 mendirikan penggergajian kayu di Singkuang.
Kembali orang-orang Si Patokah datang untuk kedua kalinya di tahun 1525 dan pada saat inilah mereka namakan Ranah Nata menjadi Natal karena pelabuhan serta pemandangannya mirip dengan Natal yang berada di Propvinsi Durban Afrika Selatan dan juga Natal yang ada di Amerika Selatan.
Satu -satunya peninggalan sejarah dari Ibnu Bathuthah adalah masuknya Agama Islam ke Ranah Nata bersamaan waktunya dengan masuknya Agama Islam ke Tanah Fansyuri di Barus dan nama Ranah Nata yang diberikan oleh Ibnu Bathuthah untuk mengenang kisah hukuman yang terjadi di Bukik Bandera
Berbicara masalah nama Bukik Bandera, selain dari kisah terhukum tersebut diatas, ada dua versi lainnya yaitu:
1. Bukit Bendera yang berasal dari cerita masuknya H.Sham Poboo ke Singkuang tahun 1513, dimana sewaktu beliau singgah ke Ranah Nata dan hendak memasuki Kualo Tuo, mereka melihat sebuah bendera berwarna putih, berkibar diatas sebuah bukit sebagai pertanda bahwa mereka tidak diizinkan untuk memasuki Ranah Nata.
2. Bukit Bendera yang berasal dari Gugung (bukit kecil), dimana pada tempat tersebut tumbuh sebatang pohon durian di Simpang Gugung dan di puncaknya dipasang sebuah bendera putih, sedangkan di puncak Bukik Bandera dipasang sebuah tonggak atau tiang berwarna merah. Perbuatan ini adalah untuk membuka jalan lurus ke daerah pesisir pantai dari puncak Bukik Bandera ke Gugung.dan untuk itulah makanya jalan Mandailing Nata ada jalan lurus di tanah ulayat Perlak Talas Kampung Sawah yang dibangun oleh Alexander Philips Godon pada tahun 1848 bersama Yang Dipertuan Huta Siantar yang peresmian pembangunan jalan ini diresmikan oleh Jenderal van Switen pada tahun 1851 dan pada waktu inilah masuknya orang Melayu di daerah pesisir pantai dibawah pemerintahan kontler KJ.Jellinghaus dan kemudian digantikan oleh AW. Van Ophuysen si tokoh bahasa Melayu Indonesia pada tahun 1852.
3. Adapun peninggalan sejarah dari bangsa China adalah nama Singkuang dan Kunkun. Karena mereka membuka pemukiman baru pengger gajian kayu dihutan Singkuang Ranah Nata, maka tempat tersebut dinamakan Sing Kwang yang berarti Tanah Baru. Sedangkan tempat peristirahatan mereka disuatu tempat bermain-main yang dalam bahasa China disebut Kun - kun yang berarti berleha - leha.
Tentang ulayat Ranah Nata atau yang disebut Ranah Nata itu secara geografis, ada beberapa istilah antara lain yaitu;
1. "Dari Lambah sorik Marapi inggo ka tapi ombak nan badabuoh" yang di Indonesiakan berarti dari lembah sorik Merapi (Batangnata) sampai ketepi ombak yang berdebur (Pesisirbarat). Jadi, yang termasuk dalam "Lembah sorik Merapi" adalah Kecamatan Batangnata, Linggobayu dan Rantobaek, sedangkan yang termasuk dalam "Ombak yang berdebur" adalah Kecamatan Nata, Batahan, Muara Batanggadis dan Sinunukan.
2. "Diantaro Batu Nan Ampek" yang di Indonesiakan berarti di antara batu yang empat. Yang dimaksud dengan "Batu Nan Ampek" adalah sebagai berikut;
a. Batu Bakuduong yaitu sebuah batu yang pontong. Batu ini mewakili pesisir pantai bagian Tenggara yang termasuk dalam ulayat Kecamatan Batahan. Kenapa dikatakan Batu Bakuduong? Hal ini mengingatkan kisah penetapan Sisi Pancang Kedaulatan (Sipadan) untuk Daerah Tugas Pemerintah (Datuk) antara Pemerintah Batahan dengan Pemerintah Air Bangis yang merupakan batas antara Sumatera Utara dengan Sumatera Barat. Dalam hal ini ada istilah yaitu "dari durian di takuok Rajo inggo ka bukik nan indak ba acek" yaitu mulai dari batang durian yang dipatuk oleh Raja sampai ke bukit yang tidak berpacat.
b. Batu Mundam yaitu sebuah batu yang berbentuk batok kelapa atau tempurung yang ada di pesisir pantai bagian Barat Laut di Kecamatan Muara Batanggadis (Mubadis) yang juga memiliki legenda dalam cerita Puti berambang Sari, yaitu legenda tentang asal usul nama-nama tempat di sepanjang pantai, mulai dari Batu Bakuduong sampai ke Batu Mundam yaitu berasal dari sebuah timba Tempu rung kelapa yang dipakai oleh Puti berambang Sari sewaktu dikejar Rajo Biluluok yang melarikan diri bersama suaminya dan lalu karam di Samudera Indonesia.
c. Batu Sondat yaitu sebuah nama tempat yang berada dibagian interior Pemerintah Batahan yang merupakan tapal batas dibagian interior dipenjuru bagian Timur Laut.
d. Batu Gajah yaitu sebuah tempat di Kerajaan Lubu yang dirikan oleh Raja Angkola Si Hitam Lidah ada di Simpang Talam, interior bagian Timur Ranah Nata yang termasuk dalam Kecamatan Batangnata.
3. "Diantaro Batang nan Ampek" yaitu di dalam aliran sungai yang empat yaitu;
a. Batang Batahan yaitu alur hubungan Pemerintah Batahan yang di dirikan oleh Sutan Rangkayo Majo Dirajo tahun 1711 yang datang dari Indopuro, Ujung Gading
Ibukota kerajaan di Kampuong Godang Sopobolo.
b. Batang Nata yaitu alur hubungan Pemerintah Ranah Nata dan Pemerintah linggo bayu. Pemerintah Ranah Nata didirikan oleh Datuk Imam tahun 1700 dari Air Bangis bersama Pangeran Indra Sutan dari Indopuro berkedudukan di Padang Malako dan kemudian pindah ke Kampuong Bukik. Adapun Pemerintah Linggobayu adalah peme karan dari Pemerintah Ranah Nata yang didirikan oleh Pangeran Indra Sutan yang beribu kota di Simpang Bajambah.
c. Batang Kunkun yaitu alur hubungan Pemerintah Kinondom yang didirikan oleh Sutan Tiansyah dari Bengkulu yang berkedudukan di Simpang Sao, kemudian pin dah ke Bintuas.
d. Batang gadih yaitu alur hubungan Pemerintah Singkuang yang didirikan oleh Raja Merangkat berkedudukan di Singkuang Kecamatan Mubadis.
Setelah berdirinya beberapa Pemerintah dan juga pemerintah-pemerintah kecil seperti Pemerintah Sinunukan, Batumundam, Tabuyung dan Simpang sodang, maka penduduk Ranah Nata terdi ri dari berbagai etnis antara lain Aceh, Minang, Rao, Bugis, Bengkulu, Palembang, Indopuro, Kalimantan, Nias dan Cina.
Dalam hal ini, Anak Muda Ranah Nata berhimpun untuk menata Seni dan Budaya yang mereka bawa dari daerah asalnya masing -masing yang di prakarsai oleh Ahmeed Sharkhani Hindustani dan Si Tiuk dari pihak Pemerintah dan peragaan pertama dilaksanakan sewaktu penobatan Raja Marah Ahmad Tuanku Pansiun tahun 1886 dalam tarian "Tari salapan" yang merupakan tari persa tuan, kemenangan, kegembiraan dan ketrampilan. Kenapa tidak! Didalam tari salapan ada lagu-lagu Sampaya (Melayu), Kaparinyo (Minang), Kotobaru (Kalimantan) dan lain - lain.
Perangkat tari terdiri dari delapan untai kain panjang berwarna yang melambangkan kasih sayang yang merupakan perwakilan masing-masing suku etnis yang delapan suku yaitu (1) Aceh (2) Minang (3) Bugis (4) Rao (5) Indopuro (7) Bengkulu ( 8) Palembang. Dari segi ketrampilan dimana menjalin dan membuka jalinan tali yang dijalin sambil menari itu merupakan pelambang ikatan persatuan yang dijalin dalam aneka warna (suku atau etnis / daerah) disatukan di Ranah Nata. Tari salapan diawali dengan irama pallakam dan ditutup dengan irama plancer madam.
Pada tahun 1610, Ranah Nata dibawah kekuasaan penuh oleh Aceh, sedangkan dari Pariaman datang pula Syekh Burhanuddin III.
Maka dengan demikian terjadilah pengembangan desa, seperti Banjar Agam dan Jambuo Rao yang mayoritas penduduknya orang Minangkabau, Banjar Aceh dan Jambuo Aceh yang mayoritas penduduknya orang Aceh dan salah seorang Ulama Aceh bermakam di jirat Malako bernama Teuku Umar Hasyim. Sedangkan orang Bengkulu menghuni Kinondom dan para pejuangnya bermakam di Lubuok Kase, dimana batu nisannya batu berbentuk balok yang sebagian sudah dibongkar karena pengaruh mimpi Porkas atau SDSB.
Demikian juga makam orang Ulando (Belanda) di Simpang Bada nyuik yang dulunya adalah lahan perumahan Hulubalang Raja Kerajaan Ranah Nata. Antara lain yang bisa penulis catat tanggal meninggalnya seperti Yohanna Petronella (1866), Pieter Mijer (1874) dan Pieter Leonard (1880). Sedangkan pemakaman orang Anggarei (Inggris) ada disamping rumah Dewan Nata H.Sutan Chaidir di Pasar Benteng yang sudah jadi pemukiman rumah penduduk.
Dalam menata sistem Pemerintahan Pemerintah, maka dibentuklan Kepala-kepala suku yang ada di Ranah Nata yaitu;
1. Suku Aceh dengan Kepala Suku Datuk Ketek yang memimpin masyarakat yang berasal dari
Dari Tanah Rencong atau Aceh
2. Suku Rao dengan Kepala Suku Datuk Pangulu Panjang yang memimpin masyarakat yang berasal dari Mandailing dan perkawinan campuran Mandailing dengan Ranah Minang atau Minangkabau.
3. Suku Minang dengan Kepala Suku Datuk Sinaro yang memimpin masyarakat yang berasal dari Ranah Minang atau Minangkabau
4. Suku Kota X dengan Kepala Suku Datuk Mudo yang memimpin masyarakat yang berasal dari Pulau-pulau bagian Utara dan Barat Laut yang terdiri dari sepuluh kota.
5. Suku Barat dengan Kepala Suku Ketek yang memimpin masyarakat yang berasal dari Selatan dan Tenggara seperti Palembang, Bugis, Bengkulu dan Indopuro.
Keberadaan suku-suku ini digambarkan dalam Adat Istiadat yang dinamakan "Saok Limo" yaitu peralatan makanan yang disuguhkan kepada Marapulai (Pengantin laki-laki) yang ditaruh diatas baki dan ditutup dengan tudung saji. Sedangkan dibagian umum atau luar di lambangkan dalam "Paragat Tujuoh" yang merupakan bendera 5 suku ditambah dengan bendera Kerajaan yang terbuat dari kulit kayu ipuh yang dicincang dan satu lagi adalah bendera Merah Putih. Betapa besarnya keinginan Kemerdekaan itu, dimana pada setiap dilaksana kann medirikan rumah, pada setiap pertemuan tonggak dengan jerejak dan bandul selalu di buat cabikan kain merah putih sebagai alas pertemuan perkakas kayu perumahan tersebut.
Dalam ruang Seni Budaya juga diadakan hasrat kemerdekaan itu dalam irama Arak Patang Marapulai, bersama suguhan gosokan biola peninggalan alat musik Portugis itu dilantunkan irama lagu-lagu perjuangan seperti lagu Maju Tak gentar, dari Sanag sampai Merauke, Indone sia Raya dan lainnya.
Sangat cepat sekali kita mengenang BS Farmansyah Sutan Botok yang tewas ditembak senapan serdadu oleh seorang yang berasal dari Ambon ketika ia meng kan bendera Merah Putih yang kini tinggal peninggalan kenangannya yaitu Tugu Proklamasi Kemerdekaan.
Kemudian pada tahun 1720, pindah Mangaraja uhum dari Mandailing ke Ranah Nata. Sewaktu rombongan Mangaraja uhum istirahat di Tor Pangolat, mereka melihat suatu pemandangan "yang indah" yang dalam bahasa Mandailing disebut "Natar ..".
Sesampainya ke Ranah Nata merekapun menyebutnya "Natarida" yang berarti yang indah atau yang tampak itu. Sebenar nya nama Natar itu adalah sebuah tempat yang ada di Lampung Selatan yang berarti ladang atau tanah datar sebagaimana yang ditulis oleh Drs.P.Wayong dalam bukunya Nama dan Geog rafis / Toponym yang dinamakan oleh Gele Haroen.
Pada tahun 1760, Sutan Baginda Martia Lelo mengadakan perjanjian dengan VOC di Ranah Nata yang dihadiri oleh Abraham Moashell (Resident Nias) yang disusul dengan masuknya bangsa Inggris untuk kesekian kalinya pada tahun 1762, dan saat inipun mereka memper kuat nama Natal untuk Ranah Nata dan sekaligus membuat peta Ranah Nata dalam Lintang Utara 32 "30" dan Bujur Timur 99 "5".
Pada saat inilah kolonial menguras rempah-remaph dari Ranah Nata termasuk lada di perkebunan lada Taluk Balai. Pada tahun ini juga saat datangnya Tuanku Rao dengan mengadakan Rapat Raksasa antara Minangkabau dengan Aceh untuk mengusir kaum penjajah dari Ranah Nata yang dibantu oleh tim laksmana Langkap dari Bugis. Kesepakatan Sulthan Alauddin Djoharsjah dengan Tuanku Rao dalam pengusiran penjajah sehingga berakhirnya sistem Pemerintahan Kerajaan.
Selanjutnya lahir seorang lagi calon Ulama Terkemuka Sumatera Utara, Syekh Abdul Fattah Mardia di Perlak Talas Kampung Sawah yang orangtuanya berasal dari Muaramais.
Adapun pemakaman beliau ada di Pagaran Sigatal Panyabungan, sedangkan pemakaman keluarganya termasuk istri beliau di puncak Bukik Banjar Aceh, sekitar 100 meter dari Sumur Batu.
Sebelum berakhirnya masa Pemerintah, pada tahun 1823 Ranah Nata masuk Residensi Tapanuli Selatan. Pada akhir-akhir masa Kerajaan, Sutan Muhammad Nata dibuang ke Sibolga (sebenar nya Siboga) kemudian masuklah dalam pemerintahan Noordelijk Afdeeling nd Wester n Kust Sumatera yang diperintahi oleh Posthouder AHIn'tveld dan ditahun 1831 menjadi pemerinta han Civil & Militer yang diperintahi oleh Asisten Letnan Dresse.
Tahun 1833, anFederation Mandailing, Radja Gadombang datang ke Ranah Nata untuk me minta Belanda meninggalkan Ranah Nata dan masuk ND Air Bangis pada tahun 1837 yang di perintahi oleh seorang kontler. Empat tahun kemudian dibukalah jalan dengan pembangunan yang diawasi oleh JAGodon dan kemudian Ranah Nata dipimpin oleh Tuanku Sutan Salim. Pada waktu inilah Edward Douwwes Dekker menjadi kontler di Ranah Nata sehingga terjadi dua kepemimpinan, kemudian Ranah Nata berobah dan masuk ND Resident Tapanuli sampai tahun 1906. Kemudian pada tahun 1855, Sutan Muhammad Shaleh menjadi Tuanku Ranah Nata yang ke - 10 sampai tahun 1876.
Pada masa inilah Syekh Abdul Malik Baleo Nata pergi naik haji ke Mekkah, AW van Ophuysen si penulis bahasa Indonesia itu menjadi kontler di Ranah Nata dan pada tahun 1862, Willem Iskandar bersama Jellinghaus (resident Mandailing Angkola) datang bermalam di Rumah Gadang Ranah Nata.
Tahun 1864, WR Devidson membangun Tangsi Hitam yang kini telah berobah menjadi Rutan Natal, dan pada tahun 1886 seorang berkebangsaan India yang bernama Ahmeed Sharkani bersama Si Tiuk memperagakan tarian daerah Ranah Nata dalam pelantikan Raja ke-11 Tuanku Muhammad Arif gelar Tuanku Pansiun.
Pada tahun ini mulailah munculnya beberapa Seni Tradisional Dendang Asli (Sentra Deli), baik Seni Tari Ranah Nata (Sentana) maupun Seni Lagu Daerah Pesisir Nata (Selada Pesta). Dalam Sentana diperagakan tari Bungkuy, Barampek, Payung, Salendang, Pirieng dan Inai, sedangkan dalam Selada Pesta dilantunkan lagu lagu Sikambang, Sagu Jauo, Perak-perak, Simambang, Sarunei Aceh, Pulo Pinang dan Sinandong.
Pada tahun 1907, Ranah Nata masuk Afdelling Natal Batangnatal merek Natal dibawah pimpinan GF Schuten dan tahun 1911 berdiri Sekolah Polisi Pertama di Sumatera yang sekarang menjadi SD Negeri No.142704 Natal.
Kemudian pada tahun 1921 berdirilah Djamijatul Chairijah dengan madrasahnya "Soeboehoel Chair" yang kemudian berganti nama Madrasah Budi Bahagia, kemudian Madrasah Raudhatul Ilmiyah (saat penulis belajar) dan kini menjadi Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 20 Natal yang pada saat itu, Ranah Nata diperintahi oleh Demang Baginda Indang Sabalaon yang mempimpin sampai tahun 1923.
Pada tahun ini juga berdiri kongsi dendang "Nata Saiyo" dibawah pimpinan Amin Gapuok dengan mendiri kan sebuah Taman sebagai tempat latihan menari dan berdendang. Kemudian pada tahun 1925, Ranah Nata diperintahi oleh Demang Ali Hanafiah dan tahun 1930, Ranah Nata masuk Ofdelling Natal batangnatal merek Natal, Afdelling Padangsidimpaun dengan kontler WD Centher L.Fontijne dan pada saat itu pulan Sutan Muhammad Amin (nenek Sutan Takdir Alisjahana) dibuang ke Bengkulu. Tahun 1937, Ranah Nata masuk Ofdelling Natal Batang natal merek Kotanopan dengan kontler DM Hottelle.
Kemudian pada tahun 1938, Muhammadiyah berdiri di Ranah Nata dengan kepemimpinan Tuanku mudo, BS Farmansyah Sutan Botok, Sutan khalifah, Matnasin Rabun dan Sutan Chaidir (Dewan Nagari Nata). Selanjutnya pada tahun 1939 menjadi sistem Kuria (Kedewanan) dan Dewan Negara dipegang oleh Tuanku Mudo Hidayatsyah.
Pada tahun ini Ranah Nata menjadi beberapa Kedewanan yaitu Nata, Batahan, Singkuang, Muarasoma, Aek Nangali dan Lingga bayu. Pada tahun 1942 sampai dengan tahun Kemerdekaan Republik Indonesia diperintahi oleh Gun Shai Bun yaitu Sodsida dan Nakasinji.
Dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno - Hatta, maka Ranah Nata dipimpin oleh Asisten Wedana antara lain H. Syariful Alamsyah (1946), H.Bardansyah (1948). Pada masa ini yaitu tahun 1949, Mayjen Sutan Nur Alamsyah meninggalkan Ranah Nata sesudah mendirikan Dewan Pertahanan yang diketuainya dengan wakil Sutan Oesman Sri Dewa, Tengku Zainal Abidin Tasya dan Tayamuddin dan penasehatnya adalah H.Abdul Aziz dan Taufiq Dahlan.
Pada tahun ini juga Tuanku Sutan Sri Dewa bersama Brigjen Syofyan Juned berlayar mengarungi Samudera Hindia ke Pulai Nias untuk mencari perbekalan. Pada tahun 1950, Ranah Nata masuk Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kemudian Asisten Wedana dipegang oleh M. Sakti Hasayangan (1953).
Sebagai hidangan dalam Taplak kami tuliskan beberapa hidangan tulisan tentang Fakta Sejarah, Pendekar Ranah, Peninggalan Sejarah, Masakan Tradisional dan Seni Tradisional Dendang Asli Ranah Nata
Sumber Bacaa
01. Jhon Crawfurd; A Discriptive of Ned Indies.1856
02. DR.Hamka1974Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao
03. Shaff Ra Alisyahbana, 2000. Binjek
04. W .Marsden, 1874. Encyclopedia van Ned Indie.
05. Drs.Basyral Hamidi Hrp. 2001.Greget Tuanku Rao
06. Mahmud Bangkaru, 2001.Handbook to North Sumatera Indonesia
07. Majalah Tempo, 1984. Indonesiana.
08. Depdikbud Jakarta, 2000.Kamus Besar Bahasa Indonesia
09. Drs.Basyral HAMIDY Hrp. 2004 Madina nan Madani
10. Max Havelaar .Multatuli / HB Jassin. 1985
11. P.Wayong, -. Nama dan Geografis / Toponym.
12. Hj.Puti Balkis Alisyahbana, Natal, Ranah nan data
13. E.St.Harahap, 1960.Perihal Bangsa Batak
14. Syekh M.Idris M.Azhary,Qamus Idris al - Marbawiy
15. Sanusi Pane,1956. Sedjarah Indonesia 2
16. Shaff Ra Alisyahbana, 1992. Sejarah Ranah Nata
17. Sejarah Ulama Terkemuka Su.Utara IAIN Sumut. 1974
18. Shaff Ra Alisyahbana, 1999. Taman Ranah
19. Shaff Ra Alisyahbana 2008. Tas Pesta
20. Drs.Mardjani Martamin, 1985. Tuanku Imam Bonjol
21. M. Onggang Parlindungan. Tuanku Rao