Ranah Nata ( kota Natal) merupakan kota kecil yg mncapai puncak kejayaan dimasa penjajahan kolonial penjajah. Menurut M. Onggang Parlindungan dalam buku ( Tuanku Rao ) masyarakat adat Ranah Nata sudah berusia satu alaf (1000 th) lamanya dan menamakan tanah ulayat nenek moyangnya dengan sebutan Ranah Nata. Dan tidak pernah ada orang yg menambahkan huruf el ( L) atau er (R) dibelakang kata Nata. Kecuali para pendatang dan masyarakat mandailing dahulunya.
Berikut beberapa catatan tahun sejarah untuk Ranah Nata.
1325 - 1350, DR. Hamka, 1974. Dalam buku nya "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao", menjelaskan bahwa Ibnu Bathuthah datang ke Natal dan memberi nama Ranah Nata untuk Kota Natal.
Hal ini dikarenakan saat beliau tiba di Natal beliau mendengar suara jeritan dari seseorang yang berasal dari sebuah bukit kecil yang saat ini disebut dengan nama bukit bendera. Menurut E.St. Harahap, 1960, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" sebenarnya bukit itu bernama bukit Mandera, yaitu bukit tempat mendera.
1412, diyakini sebagai tahun kedatangan Syekh Maghribi Maulana Malik Ibrahim ke Ranah Nata,
1416, H. Sham Po Boo datang ke Ranah. Beliau adalah seorang saudagar dari China, yang kemudian para pendatang China mulai mendirikan penggergajian kayu di singkuang skitar tahun 1513. Dan kedatangan saudagar dari negeri bambu ini juga diyakini sebagai awal pemberian nama singkuang yg berasal dari kata Sing Kwang yang berarti tanah baru. Sedangkan untuk tempat peristirahatan mereka adalah suatu tempat yg bernama Kun - Kun yg juga berasal dari bahasa China dan mempunyai arti Berleha -leha.
1492-1496, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" disebutkan bahwa kolonial telah datang ke Ranah Nata untuk berdagang.
1500-1560, Shaff ra Alisyahbana, dalam catatan Pra Malako memperkirakan Datuk Imam Basya dari Air Bangis dan pangeran Indra Sutan dari Indopuro datang ke Ranah Nata dan mendirikan kerajaan Ranah Nata yang berpusat di Padang Malako, dan kemudian pindah ke Kampung Bukik. Sementara itu Pangeran Indra Sutan mendirikan kerajaan Lingga Bayu di simpang bajambah yang notabenenya adalah pemekaran dari kerajaan Ranah Nata. Sebagian sumber menyatakan pemekaran ini untuk mempermudah penguasaan dan pengawasan wilayah Ranah Nata atau pembagian tugas.
1525 , untuk yang kedua kalinya bangsa portugis datang ke Ranah Nata dan memberi nama Natal untuk Ranah Nata.
Hal ini dikarenakan mereka melihat ada kemiripan pelabuhan dan pemandangan Ranah Nata dengan Natal yang ada di Prov. Durban, Afrika Selatan dan juga Amerika Selatan. Namun ada pula yang berpendapat bahwa pemberian nama Natal dikarenakan mereka tiba di Ranah Nata pada tanggal 25 Desember yang bertepatan dengan Hari Natal.
1672, menurut Jhon Crawfurd, 1856, dalam buku " A Discriptive of Ned Indies" bangsa Inggeris datang ke Ranah Nata dan juga memberikan nama Natal untuk Ranah Nata.
1610, Ranah Nata dikuasai oleh Kerajaan dari Atjeh.
1619 Sejak kedatangan pelaut-pelaut Eropa di Nusantara (menggantikan pelaut/pedagang dari India, Persia dan Arab), nama Natal belumlah popular. Pelaut Portugis dan Spanyol yang pertamakali datang. Kemudian disusul Perancis, Inggris dan Belanda. Pelaut-pelaut Portugis telah memetakan wilayah Nusantara. (Sumber : blog Akhir Matua Hrp.)
1697, Syekh Burhanuddin III datang ke Ranah Nata.
1700, Sutan Tiansyah datang dari Bengkulu dan mendurikan kerajaan Kinondom di Simpang Sao, Bintuas.
1710, Raja Merangkat dan Raja Lumut mendirikan kerajaan Singkuang di Sinorpi.
1711, Sutan Rangkayo Maharajo Di Rajo dari Indopuro mendirikan kerajaan Batahan di Sopobolo
1715, Si Hitam Lidah Raja di Angkola dari Muara Sipongi mendirikan kerajaan Lubu di Batu Gajah,
1715/1720 Mangaraja Uhum dari Mandailing pindah ke Ranah Nata. Dari sinilah awal mula muncul nya penyebutan Natar untuk Ranah Nata. Natar berasal dari kata Natarida yang berarti " yang tampak /Indah".
1760, Sutan Baginda Martia Lelo mengadakan perjanjian dengan VOC di Ranah Nata yang dihadiri oleh Abraham Moashell (Resident Nias).
1762, untuk kesekian kalinya bangsa Inggeris masuk ke Ranah Nata dan memperkuat penamaan Natal dan juga membuat peta Ranah Nata.
Bersambung
Kamis, 24 Agustus 2017
Sejarah Kota Natal : Prakiraan Masa dan Tahun kuasa I
Sejarah Kota Natal : Prakiraan Masa dan Tahun kuasa I
Ranah Nata ( kota Natal) merupakan kota kecil yg mncapai puncak kejayaan dimasa penjajahan kolonial penjajah. Menurut M. Onggang Parlindungan dalam buku ( Tuanku Rao ) masyarakat adat Ranah Nata sudah berusia satu alaf (1000 th) lamanya dan menamakan tanah ulayat nenek moyangnya dengan sebutan Ranah Nata. Dan tidak pernah ada orang yg menambahkan huruf el ( L) atau er (R) dibelakang kata Nata. Kecuali para pendatang dan masyarakat mandailing dahulunya.
Berikut beberapa catatan tahun sejarah untuk Ranah Nata.
1325 - 1350, DR. Hamka, 1974. Dalam buku nya "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao", menjelaskan bahwa Ibnu Bathuthah datang ke Natal dan memberi nama Ranah Nata untuk Kota Natal.
Hal ini dikarenakan saat beliau tiba di Natal beliau mendengar suara jeritan dari seseorang yang berasal dari sebuah bukit kecil yang saat ini disebut dengan nama bukit bendera. Menurut E.St. Harahap, 1960, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" sebenarnya bukit itu bernama bukit Mandera, yaitu bukit tempat mendera.
1412, diyakini sebagai tahun kedatangan Syekh Maghribi Maulana Malik Ibrahim ke Ranah Nata,
1416, H. Sham Po Boo datang ke Ranah. Beliau adalah seorang saudagar dari China, yang kemudian para pendatang China mulai mendirikan penggergajian kayu di singkuang skitar tahun 1513. Dan kedatangan saudagar dari negeri bambu ini juga diyakini sebagai awal pemberian nama singkuang yg berasal dari kata Sing Kwang yang berarti tanah baru. Sedangkan untuk tempat peristirahatan mereka adalah suatu tempat yg bernama Kun - Kun yg juga berasal dari bahasa China dan mempunyai arti Berleha -leha.
1492-1496, dalam buku "Perihal Bangsa Batak" disebutkan bahwa kolonial telah datang ke Ranah Nata untuk berdagang.
1500-1560, Shaff ra Alisyahbana, dalam catatan Pra Malako memperkirakan Datuk Imam Basya dari Air Bangis dan pangeran Indra Sutan dari Indopuro datang ke Ranah Nata dan mendirikan kerajaan Ranah Nata yang berpusat di Padang Malako, dan kemudian pindah ke Kampung Bukik. Sementara itu Pangeran Indra Sutan mendirikan kerajaan Lingga Bayu di simpang bajambah yang notabenenya adalah pemekaran dari kerajaan Ranah Nata. Sebagian sumber menyatakan pemekaran ini untuk mempermudah penguasaan dan pengawasan wilayah Ranah Nata atau pembagian tugas.
1525 , untuk yang kedua kalinya bangsa portugis datang ke Ranah Nata dan memberi nama Natal untuk Ranah Nata.
Hal ini dikarenakan mereka melihat ada kemiripan pelabuhan dan pemandangan Ranah Nata dengan Natal yang ada di Prov. Durban, Afrika Selatan dan juga Amerika Selatan. Namun ada pula yang berpendapat bahwa pemberian nama Natal dikarenakan mereka tiba di Ranah Nata pada tanggal 25 Desember yang bertepatan dengan Hari Natal.
1672, menurut Jhon Crawfurd, 1856, dalam buku " A Discriptive of Ned Indies" bangsa Inggeris datang ke Ranah Nata dan juga memberikan nama Natal untuk Ranah Nata.
1610, Ranah Nata dikuasai oleh Kerajaan dari Atjeh.
1619 Sejak kedatangan pelaut-pelaut Eropa di Nusantara (menggantikan pelaut/pedagang dari India, Persia dan Arab), nama Natal belumlah popular. Pelaut Portugis dan Spanyol yang pertamakali datang. Kemudian disusul Perancis, Inggris dan Belanda. Pelaut-pelaut Portugis telah memetakan wilayah Nusantara. (Sumber : blog Akhir Matua Hrp.)
1697, Syekh Burhanuddin III datang ke Ranah Nata.
1700, Sutan Tiansyah datang dari Bengkulu dan mendurikan kerajaan Kinondom di Simpang Sao, Bintuas.
1710, Raja Merangkat dan Raja Lumut mendirikan kerajaan Singkuang di Sinorpi.
1711, Sutan Rangkayo Maharajo Di Rajo dari Indopuro mendirikan kerajaan Batahan di Sopobolo
1715, Si Hitam Lidah Raja di Angkola dari Muara Sipongi mendirikan kerajaan Lubu di Batu Gajah,
1715/1720 Mangaraja Uhum dari Mandailing pindah ke Ranah Nata. Dari sinilah awal mula muncul nya penyebutan Natar untuk Ranah Nata. Natar berasal dari kata Natarida yang berarti " yang tampak /Indah".
1760, Sutan Baginda Martia Lelo mengadakan perjanjian dengan VOC di Ranah Nata yang dihadiri oleh Abraham Moashell (Resident Nias).
1762, untuk kesekian kalinya bangsa Inggeris masuk ke Ranah Nata dan memperkuat penamaan Natal dan juga membuat peta Ranah Nata.
Bersambung
Senin, 22 Mei 2017
Takilek Ikan Didalam Lubuak
Takilek Ikan Didalam Lubuak
Cipt. ALBANNA
Sakiknyo sakik paruntuangan,
Sanang diurang banampakkan,
Badan nan bansaik dilendo jaman,
Katanah rantau kaki bajalan,
Tabayang ameh dirantau urang,
Kironyo sansai nan ka dijalang,
Tasisiah badan digalanggang,
Rasaki bana diek oiiii alun basarang,
Reff:
Dirantau urang mato balinang,
Batin manangih badan takaluak,
Sadang nyo bansaik dirantau urang,
Takilek ikan didalam lubuak.
Tanah batuah kampuang halaman,
Ma imbau - imbau manyuruah pulang,
Diparak sajo lapiak kambangkan,
Usah dituruik rayuan tanah subarang..
Minggu, 07 Mei 2017
Hujan Mamanciang Rindu
Hujan Pamanciang Rindu
Cipt. ALBANNA
Malam nan sunyi tiado babintang
Angin malam babisiak sayang
Jangkrik anggan untuak badendang
Denai tamanuang ditapi janjang
Katiko angin barambuih kancang.
Rintiak hujan mambasah badan.
Rupo adiak mulai tabayang.
Angan pun tabang manabuih kanangan.
Reff.
Hujan nan turun dilaruik malam
Badendang ratok nasib nan malang.
Mambaok kaba maso nan silam
Samaso tangan saliang sabimbiang.
Oh angin
Sampaikanlah salam rindu
Dakek adiak nan denai sayang
Oh hujan.
usahlah datang mamanciang rindu.
Bia tanang taraso hati..
@ALBANNAdiNata
Sabtu, 06 Mei 2017
Nasib Kuini nan Malang
Nasib Kuini Nan Malang
Cipt. ALBANNA
Bamulo batang ditanam urang
Disiram tuan pagi jo patang
Kini pokok lah mulai gadang
Badahan banyak daunnyo rindang.
Katiko musim datang manjalang
Daun nan hijau lah tampak kuniang.
Ulah dek bungo sadang mangambang.
Sananglah hati tuan mamandak.
Reff:
Katiko putiak lah mulai gadang.
Badai mahadang hujan jo kilek.
Patah lah rantiang jo dahan malang
Habih lah buah jatuahnyo ruruik.
Lah malang kuini malang.
Dahan patah ditingga urang.
Tuan datang raso ka berang.
Isuok batang ditabang urang.
Kamis, 13 April 2017
Kampuang maimbau
Kampuang maimbau.
Cipt. ALBANNA
Ondeh dunsanak sadonyo
Dangalah ratok ranah kito
Tapian mandi tanah pusako
Nagari batuah kato urang tuo
Dirantau dunsanak malenggang
Nan mudo lah banyak mailang.
Ulah dayo lupo jo kampuang
Tanah lapang dijarah urang.
Reff
Dunsanak capek lah pulang
Mambangkik batang tarandam
Ranah Nata nan sadang malang
Rindu kampuang usah di pandam.
Tasabuiklah batu nan ampek
Batas nagari si Ranah Nata
Sakik iduik usah di upek
Sanang dirantau usahlah pongah.
Cinto Anak Nata
CINTO ANAK NATA
cipt. ALBANNA
Ka marantau
Hati taibo
Tabayang kasiah
Nan ka batinggakan.
Ulah nasib pintak kabarubah
Mangkonyo kito hiduik bajauhan..
Dirantau urang
Sansai si anak dagang.
Adiek den sayang
Antah bilo ka batamu pandang...
reff:
Iko cinto si anak Nata.
Walau hiduiknyo susah.
Kasiah takkan bapisah..
Dihampeh galombang.
Hiduik bakatuntang.
Nan dek adiek...
Ttap tabayang.
Jikok nyo isuak.
Nasib kabarubah.
Den japuik adiek
Buliah nak tunai diak oiii
Janji janji nan bagubah..
Sabtu, 01 April 2017
Syair Ranah
pagi nan indah di balik merapi
fajar menyinar menyambut pagi.
kicau indah burung menghentak sepi.
dendang panci berdiangkan api.
udara segar berbisik jernih.
indah pantai menampakkan diri.
gelombang laksana gendang berbunyi.
menghempas pantai buih menari.
tapi,
itu dahulu sekali.
kini singa jaman mnerkam ranah.
adat timur bergeser sudah.
budaya asing merajalela.
kicau indah hnya khayalan saja.
udara bersih sembunyi dalam mmpi semata.
ombak bergulat dengan sampah.
buih mnghitam jadi mahkota.
hutan dirambah sesuka hatinya.
satwa tergusur dari ranah.
pindah dan terbunuh taruhannya.
pesiul ulung hdup dlm penjara.
ikan berkubang di sungai keruh.
hilang adat ranah sengsara.
hukum hanya tameng saja.
tanah pusaka tergadai sudah.
warisan sejarah beranjak punah.
tuan ulama dipandang sebelah mata.
mesjid megah sepi jamaah.
kaji beralih tontonan sinema.
ranah kini meratap pilu.
sakit tiada yg mengobati.
banyak yg pandai lupa diri.
yang peduli di cemo'ohi.
bukan berpartisipasi
tapi menghalangi.
wahai umat bernama manusia.
usah dikau tamak dan serakah.
bumi nan indah drusak jangan.
sebab bencana tiada terkira.
dari bukit dan gunung ada bahaya.
tanah longsor, air bah hingga gunung yg muntah.
di lembah tempat air membangun danau dan rawa.
dri pantai gelombang pasang hingga Tsunami telah siaga.
dibawah tanah ada gempa.
diudara angin badai, topan, tornado dan sejenisnya.
BIDUAK PINCOLANG, Perahu Layar Jaman Dahulu di Ranah Nata
Biduoak pincolang merupakan perahu/sampan yang jaman dahulu digunakan oleh para nelayan sebagai alat transportasi laut sekaligus perahu para nelayan untuk menangkap hasil laut.
Perahu ini diyakini telah digunakan sejak beberapa abad yang lalu. Dan keberadaannya sekarang sudah hilang, tergantikan oleh alat tangkap ikan yang lebih modern. Saat ini para nelayan sudah mnggunakan kapal mesin. Sehingga tidak bergantung pada angin lagi. Namun berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup biota laut. Biduak pincolang atau perahu ini hampir sama dengan perahu layar yang sering digunakan para nelayan. Namun uniknya perahu ini juga dilengkapi dengan kabin(kamar) sebagai tempat berteduh, istirahat, dan juga ruangan yang dapat digunakan oleh para penumpangnya.
Jumat, 10 Februari 2017
Sejarah Kota Natal jilid VII
Sejak AP Godon menjadi Asisten Residen di Afdeeling Mandailing en Angkola (1847) telah banyak yang berubah. Produksi kopi terus meningkat di Mandailing dan Angkola, akses jalan menuju Natal semakin lancar. Perubahan yang lain adalah anak-anak Mandailing en Angkola sudah mulai bersekolah (introduksi aksara latin dalam pendidikan). Pendapatan pemerintah dari kopi telah mampu membiayai untuk pendidikan. Pendapatan yang sebelumnya terbatas untuk anggaran infrastruktur (utamanya jalan/jembatan) kini telah diperluas dan dialokasikan untuk pendidikan.
Sukses pertama dari pendidikan di Mandailing en Angkola adalah dikirimnya dua siswa (bernama Si Asta dan Si Angan) tahun 1854 untuk studi kedokteran di Batavia. Kedua siswa ini diharapkan akan mampu menangani penyakit dan wabah yang kerap terajdi sebelumnya. Sukses kedua adalah dikirimnya Si Sati pada tahun 1857 untuk studi keguruan ke Belanda. Pada tahun 1856 dua siswa kedokteran telah berhasil dalam studinya. Dr. Asta ditempatkan di Mandailing dan Dr. Angan ditempatkan di Angkola. Pada tahun 1856 dua siswa dikirim lagi ke Batavia.
Pada tahun 1961 Si Sati yang telah berganti nama menjadi Willem Iskander kembali ke tanah air (Batavia). Willem Iskander kemudian pulang kampong di Mandailing untuk mendirikan sekolah guru (kweekschool). Lokasi yang dipilih Willem Iskander tempat sekolah guru yang akan diasuhnya sendiri adalah din Tanobato. Suatu kampong yang jauh dari Panjaboengan di daerah yang lebih tinggi dan berhawa sejuk di sisi jalan menuju pelabuhan Natal.
Lokasi sekolah guru yang dipilih di Tanobato tidak menguntungkan untuk siswa-siswa yang berasal dari Angkola. Pilihan lokasi diduga karena letak Tabobato yang berhawa sejuk lebih sesuai untuk Willem Iskander sendiri yang sudah mengalami iklim Eropa. Alasan utama mungkin agar Willem Iskander mudah dan cepat akses ke pelabuhan (agar mudah ke Padang dan Batavia) dan juga agar pejabat pendidikan baik di Padang dan Batavia mudah mengakses sekolah guru itu.
Pilihan Tanobato sebagai sekolah guru secara tidak langsung menguntungkan Natal (yang sudah beberapa tahun mengalami keterpencilan). Natal dan pelabuhan Natal akan dengan sendirinya menjadi ramai kembali. Para pejabat akan sering meninjau sekolah tersebut. Demikian juga para wisatawan akan tertarik melihat keberadaan sekolah guru yang berada di ketinggian itu yang mana gurunya, Willem Iskander merupakan satu-satunya pribumi yang berpendidikan di Hindia Belanda dan memahami serta sudah terbiasa dengan budaya Eropa.
Afdeeling Natal yang selama ini hanya terdapat dua atau tiga pejabat (termasuk controleur), pada tahun 1861 di Natal sudah terdapat enam pejabat. Di Tanobato sejak tahun 1852 sudah ditempatkan seorang koffie pakhuis,meester. Lalu sejak 1856 seorang pengawas ditempatkan di Moearasama. Kemudian pada tahun 1858 pengawas ditambahkan di Tapoes. Pada tahun 1860 pakhuis,meester di Tanobato dan pengawas di Tapoes dihilangkan. Ini mengindikasikan jalur Natal keramaiannya (arus barang dan orang) menurun. Akan tetapi pada tahun 1861 di Tanobato diaktifkan lagi pakhuis,meester.
Satu-satunya pejabat yang ada di Tanobato saat Willem Iskander membuka sekolah guru adalah pakhuis,meester. Bisa dibayangkan bahwa Tanobato, tempat adanya sekolah guru sangatlah sepi jika dibandingkan dengan Panjaboengan yang sangat ramai tempat dimana asisten residen berkedudukan dan sejumlah pejabat lainnya. Pada tahun 1863 status pakhuis,meester di Tanobato diringkatkan menjadi pengawas. Jabatan pakhuis,meester yang sebelumnya dipegang oleh Belanda kini dialihkan dan dipegang oleh pribumi.
Penempatan pengawas (opziener) di Tanobato besar kemungkinan karena sekolah guru ini telah memiliki banyak siswa. Perhatian pemerintah di Tanobato tidak hanya pada perdagangan kopi (fungsi koffiej pakhuis,meester) tetapi juga aspek-aspek yang lebih luas dalam bidang kemasyarakatan yangdalam hal ini intens dalam bidang pendidikan (fungsi pengawas).
Sekolah guru Tanobato (Kweekschool Tanobato) semakin berkembang dan semakin diakui oleh pemerintah hingga pada akhirnya pada tahun 1865 sekolah yang didirikan Willem diakuisi pemerintah dan dijadikan sebagai sekolah guru negeri. Tanobato semakin berkembang, Moerasama juga semakin berkembang dan Natal juga ikut semakin pesat lagi berkembang.
Sumber :Akhir Matua Harahap
Kamis, 02 Februari 2017
Sejarah Kota Natal jilid VI (Ranah Nata)
Foto Pantai Natal Dahulu
Akibatnya, Natal tidak sepenuhnya menjadi pelabuhan dari afd. Mandailing en Angkola lagi, karena dalam perkembangannya tidak semua arus produksi dan orang melalui pelabuhan Natal. Penduduk dan hasil-hasil produksi dari Angkola sudah sejak lama mengalir melalui Lumut tetapi semakin optimal dengan tersedianya gudang/pelabuhan di Djaga-Djaga.
Pada saat era WA Hennij inilah ekonomi Angkola mampu mengimbangi ekonomi Mandailing. Volome perdagangan kopi Angkola telah meningkat pesat dan harganya juga telah meningkat juga. Faktor penting peningkatan elonooomi Angkola karena akses jalan yang telah membaik dari Padang Sidempuan ke Loemoet. Juga karena factor perluasan kebun kopi ke Sipirok telah mulai menghasilkan.
Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-06-1860: ‘Asisten Residen Mandheling en Ankola, B. Zellner dipindahkan ke Lima Poeloeh Kotta. Untuk Asisten Residen Mandheling en Ankola diangkat Controleur kelas-1, W.A. Henny, yang sebelumnya menjabat Controleur di Ankola’
Atas prestasi WA Hennij dalam ekstensifikasi dan intensifikasi kopi di Angkola, posisinya dinaikkan dari jabatan controleur (di onderafd. Angkola) menjadi asisten residen (di afdeeling Mandailing en Ankola). Dalam perkembangannya, WA Hennij ditarik ke Padang, Ibukota Province Sumatra’s Westkust menjadi sekretaris Gubernur (kini Sekda).
Ketika akses jalan Padang Sidempuan-Lomoet telah ditingkatkan untuk pengakutan kopi, pemerintah pusat/provinsi memandang perlu untuk menghubungkan Padang (ibukota provinsi Sumatra’s Westkust) dengan Sibolga (ibukota Residentie Tapanoeli) melalui moda transfortasi darat. Lalu dilakukan peningkatan mutu jalan/jembatan di tiga etafe: Fort de Kock-Panjaboengan, Panjaboengan-Padang Sidempuan dan Padang Sidempuan-Sibolga. Pada etafe Padang Sidempuan-Sibolga, jalan darat diperluas antara Loemoet-Sibolga. Sebab pelabuhan Sibolga sudah ditingkatkan dan arus perdagangan kopi akan langsung menuju Sibolga. Konsekuensinya, jalan akses Panjaboengan/Kotanopan menuju Natal semakin sepi. Hal ini karena faktanya arus kopi dari Mandailing telah mengalir ke tiga arah: selain ke Natal, juga telah mengarah ke Fort de Kock dan ke Padang Sidempuan.
Sejak WA Hennij menjadi sekda provinsi, perhatian pemerintah semakin intensif ke Residentie Tapanoeli khususnya di afdeeling Mandailing en Angkola. Semakin membaiknya akses darat dari Padang-Sibolga via Padang Sidempuan, jumlah para wisatawan juga semakin meningkat. Hal lain adalah di satu sisi produksi kopi di onderfadeeling Klein Mandailing dan Oeloe en Pakantan sudah mengalir melalui darat ke Fort de Kock dan di sisi lain produksi kopi dari Angkola (Djae, Djoeloe dan Dolok) menuju Sibolga.
Posisi Padang Sidempuan menjadi strategis. Padang Sidempuan menjadi tumbuh pesat karena tidak hanya pusat transit perdagangan kopi (gudang besar) juga penduduk Mandailing sudah mulai banyak yang melakukan transaksi ke Padang Sidempuan (menjual produk ekspor dan membeli produk impor).
Natal lambat laun menjadi sepi. Natal yang sebelumnya pintu gerbang afdeeling Mandailing en Angkola seakan berbalik menjadi hanya sekadar pintu belakang. Natal seakan menjadi terpencil kembali, sebagaimana pada tahun 1845. Saat itu Natal tidak menjadi bagian dari Residentie Tapanoeli tetapi bagian daerah paling luar dari Residentie Padangsche Bovenlanden (ibukota di Fort de Kock).
Sumber : Akhir Matua Harahap.
Nur Alamsyah Batubara AMB
Senin, 02 Januari 2017
Sejarah Kota Natal jilid V
Kebijakan pertama AP Godon adalah menyeimbangkan tujuan pemerintah colonial dengan kebutuhan penduduk Mandailing en Angkola. Ada dua program simultan yang dilaksanakan AP Godon. Pertama, program membuka jalan adalah membuka isolasi daerah dengan membuka transportasi (pembangunan jalan dan jembatan) antar Tanobato dengan pelabuhan Natal. Hal ini karena produksi kopi (hasil koffiecultuur yang dimulai sejak 1841) sudah menumpuk di gudang-gudang tetapi tidak tersalurkan dengan baik. Kedua, program introduksi pendidikan modern (aksara latin) yakni menyediakan pendidikan bagi anak-anak para pimpinan penduduk di Mandheling en Ankola. Program ini dianggap pemerintah sebagai kebutuhan yang sesuai dengan karakter penduduk Mandailing en Angkola.
Setelah selesainya pembangunan jalan yang menghubungkan Mandailing dan Natal maka pada tahun 1852 lambat laun produksi kopi mulai mengalir dari Mandailing dan Angkola ke pelabuhan Natal dan diteruskan ke Padang.Oleh karena kopi Mandailing dan Angkola terbilang unik dan memenuhi semua cita rasa di Eropa dan Amerika, maka harga kopi dari Mandailing dan Ankola pelan tapi pasti makin meningkat hingga kopi Mandailing dan kopi Angkola mendapat apresiasi harga tertinggi dunia sejak 1860-an hingga tahun 1920-an.
Meski terus diawasi secara ketat, para petani makin bergairah karena harga kopi Mandailing dan kopi Ankola yang terus merangsek naik menjadi dapat dirasakan oleh petani hingga sampai ke lereng-lereng gunung. Sistem cultuur stelsel (tanam paksa) yang dulunya menjadi sumber masalah (kerusuhan) mulai hilang sendirinya karena penduduk sendiri sudah proaktif menanam (bebas tanam).
Dengan situasi dan kondisi yang semakin kondusif di Mandailing en Ankola, situasi dan kondisi di Natal juga turut kondusif. Pada tahun 1853 controleur yang ditempatkan di Natal adalah JAW van Opuijsen.
JAW van Opuijsen adalah ayah dari Charles Adriaan van Ophuijsen. Kelak Charles Adriaan van Ophuijsen. Lebih dikenal sebagai guru terkenal di Padang Sidempuan (Kweekschool Padang Sidempuan).
Onderafdeeling Angkola maju pesat
Afdeeling Mandailing en Angkola terdiri dari empat onderafdeeling (Groot Mandailing, Klein Mandailing, Oeloe en Pakantan dan Angkola). Sentra koffiecultuur sendiri sesungguhnya hanya terdapat di onderfadeling Oeloe en Pakantan dan onderafdeeling Angkola. Dari dua onderafdeeling inilah produksi kopi secara besar-besaran mengalir ke pelabuhan Natal. Kopi asal dua sentra ini di pusat lelang di Padang diberi label yang terpisah: kopi Mandailing dan kopi Angkola.
Sejak 1843 di Angkola telah bekerja dengan baik dalam koffiecultuur WF Godin sebagai controleur. Pada tahun 1846 Godin digantikan oleh LB van Planen Patel, lalu pada tahun 1948 Patel digantikan KF Stijman, lalu tahun 1851 datang AJF Hamers (berakhir 1855). Masing-masing controleur ini dapat diterima penduduk/pemimpin di Angkola. Akibatnya produksi kopi Angkola tidak efisien lagi disalurkan via Natal (terlalu jauh).
AJF Hamers yang menjadi controleur Angkola selama lima tahun melihat situasi dan kondisi dengan cermat lalu mulai merintis membuka jalan antara Padang Sidempuan dengan Loemoet (pelabuhan sungai). Pada saat AP Godon cuti ke Belanda tahun 1857 (setelah lebih dari delapan tahun menjadi asisten Residen Mandailing en Ankola) di Angkola ditempat seorang controleur yang visioner, seorang sarjana bernama WA Hennij.
Mr. WA Hennij mengikuti program yang telah dijalankan oleh Hamers. WA Hennij lebih meningkatkan kapasitas (produktivitas kopi) dan efisiensi pengakutan (low cost). Karenanya WA Hennij sangat berhasil dalam perluasan areal kopi di Angkola, tidak hanya di Angkola Djae dan Angkola Doeloe tetapi juga ke Angkola Dolok (Sipirok) dan juga sangat berhasil dalam peningkatan mutu jalan/jembatan antara Padang Sidempuan-Loemoet. Semasa Hennij menjadi controleur Angkola, juga dibangun gudang besar di Djaga-Djaga (pelabuhan laut) yang dapat meningkatkan volume/tonase kapal untuk mengangkut kopi ke Padang.
Sumber : Akhir Matua Harahap (blog)
Nur Alamsyah Batubara AMB
Minggu, 25 Desember 2016
Panorama Ranah Nata
Sumber : fb Alvyn.
Fotografer : Alvyn.
Nur Alamsyah Batubara AMB
Kamis, 22 Desember 2016
SEJARAH KOTA NATAL jilid IV
Kota Natal
Sejak kerusuhan tahun 1842 di Mandailing dan pemecatan Controleur Natal, Eduard Doowes Dekker 1843, demi menjaga kepentingan pemerintahan (produksi komodi ekspor), pemerintah mulai ciut nyalinya lalu mulai dengan tatakelola pemerintahan yang berimbang (di satu tangan tetap dengan pengawasan senjata dan di tangan yang lain memberi stimulan yang mampu meredakan ketegangan. Stimulan itu dalam pelaksanaannya baru nanti dilakukan pada era pemerintahan yang dijabat oleh Asisten Residen AP Godon (1847-1857).
Sejak dipecatnya Eduard Douwes Dekker, pemerintahan di Natal dikendalikan oleh beberpa controleur. Anehhnya pejabat controleur definitif tidak pernah ada (hanya sebagai pejabat sementara). Ini mengindikasikan bahwa faktor Eduard Doowes Dekker masih menjadi pertimbangan.
Asisten Residen AP Godon yang humanis
Pada tahun 1846 afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli (menyusul afd, Mandailing en Angkola). Afdeeling Natal yang sempat rantai terputus 1845 (Natal masuk Residentie Air Bangis sementara Mandailing en Angkola masuk Residentie Tapanoeli) tidak terdapat koordinasi. Dengan bersatunya kedua afdeeling ini di dalam satu residentie maka fungsi koordinasi kembali terlaksana. Oleh karena di afdeeling Mandailing en Ankola statusnya asisten residen, maka controleur Natal harus selalu berkoordinasi dengan asisten residen Mandailing en Angkola.
Pada tahun 1846 asisten residen Mandailing en Ankola adalah C. Rodenburg (menggantikan TJ Willer yang telah menjabat sejak 1843). Namun Rodenburg tidak disukai pemimpin Mandailing en Ankola lalu digantikan HM Andree Wiltens (sebagai pjs). Kemudian ditunjuk asisten residen yang baru 1847 bernama JKD Lammlet, namun juga tidak mendapat penerimaan oleh pemimpin Mandailing en Ankola lalu diberhentikan dan digantikan AP Godon pada tahun 1848.
Praktis selama periode 1843 (pasca kerusuhan) hingga kedatangan AP Godon (1848) koordinasi pemerintahan antara Natal dan Mandailing en Ankola tidak berjalan kondusif. Tingkat penerimaan penduduk terhadap pejabat sangat rendah. Pada periode ini banyak penduduk Mandailing en Ankola yang eksodus ke luar Residentie Tapanoeli (ke Padang Lawas, Sumatra Timur dan Semenanjung Malaya). Migrasi ini dalam jangka panjang sangat dikhawatirkan pemerintah colonial karena dengan sendirinya jumlah tenaga kerja potensial akan berkurang. (factor penting eksploitasi eknomi colonial).
Tahun 1845 Afdeeling Mandailing dan Angkola dipisahkan dari Air Bangis. Residentie Air Bangis dihapus dan dimasukkan ke Residentie Padangsch Bovenlanden. Di Air Bangis hanya dijabat oleh Asisten Residen. Afd, Natal menjadi bagian dari Padangsch Bovenlanden. Posisi Natal menjadi dilematis. Afd, Natal tidak masuk Residentie Tapanoeli dan dari sisi geografis Natal menjadi terpencil dari Residentie Padangsch Bovenkanden. Namun, keterpencilan Natal masih tertolong dengan dibukanya jalur transportasi Mandailing-Natal. Dalam konteks regional: Mandailing menjadi hulu (sumber utama produksi) dan Natal menjadi hilir (pelabuhan).
Pada tahun 1946, Residentie Tapanoeli baru terdiri dari: Afd. Natal, Afd. Mandailing en Angkola, Afd. Baros, Afd. Singkel plus Eiland. Nias (statusnya belum menjadi afdeeling/kabupaten meski pulau Nias sudah dimasukkan sebagai bagian dari Residentie Tapanoeli sejak 1842). Sedangkan afdeeling Pertibie yang sudah ada sejak 1842, sejak tahun 1844 dihapus (kelak tahun 1876 dikembalikan lagi sebagai sebuah afdeeling, yang kurun waktunya bersamaan dengan afd. Silindoeng en Toba dimasukkan ke dalam Residentie Tapanoeli).
Oleh karena itu, Gubernur Jenderal di Batavia dan Gubernur Michiel di Padang harus mencari asisten residen yang sesuai dengan kebutuhan penduduk/pemimpin di Mandailing en Ankola. Anehnya, yang ditemukan justru bukan berpangkat setingkat asisten residen melainkan yang masih berpangkat setingkat controleur. Kandidat tersebut adalah AP Godon, contoleur yang tengah menjabat di afdeeling Singkel (yang masih Residentie Tapanoeli).
Oleh : Akhir Matua Harahap
Minggu, 13 November 2016
Antara BOM, PERAKIT dan EKSEKUTOR
Ia telah merakitnya. Dan sudah sejak lama merakitnya. Namun dahulunya hanya sebatas ukuran petasan saja.
Hampir setiap hari merakitnya. Dan sering pula diledakkan oleh masyarakat dan oknum tertentu yg termakan amarah.
Beberapa bulan lalu ia mulai membuat yg lebih besar ukurannya.
Rakyat pun gelisah.
Dilaporkan ke aparat dan penguasa.
Namun semua masih diam saja.
Hingga ukuran BOM ukuran sedang itu dledakkan rakyat ddepan penguasa.
Namun lagi masih tetap sperti dahulunya.
Dengan beribu macam dalihnya.
Tanggal 4 Nov pun tiba.
Rakyat kembali meledakkannya.
Dengan kekuatan yg dahsyatnya.
Laksana BOM ATOM Nagasaki Hirosima.
Semua mulai sibuk dengannya.
Penguasa hilir mudik pergi kesana.
Menjumpai para tokoh dan ulama.
Tdak luput berbagai organisasi yg ada.
Aparat pun sibuk mnangkapi perusuh yg ada.
Seolah mnuduh rakyatlah yg bersalah.
Karna tak sabar dlm proses hukumnya.
Sekarang. BOM ATOM berubah sudah jadi NUKLIR yg MAHA.
Namun perakitnya masih bebas dluar sana.
Yg kejar hanya peledaknya.
Bom NUKLIR itu sudah dtangan tentara Allah.
Dan tinggal mnunggu waktunya saja dlm tugasnya.
Negara kokoh akan terpecah belah.
Wahai para penguasa.
Segera seret perakitnya.
Agar negeri ini tidak terpisah2.
Dan BOM NUKLIR nya dhancurkan oleh para ulama..
Senin, 17 Oktober 2016
Sajak Pertemuan Mahasiswa
SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
Oleh :
W.S. Rendra
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya :
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
Jakarta 1 Desember 1977
Sajak Orang Miskin
SAJAK ORANG MISKIN
Oleh: Ws Rendra
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang
selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim..
Djogja, 4 Februari 1978
Selasa, 11 Oktober 2016
Sejarah Kota Natal Jilid III
Eduard Douwes Dekker: Controleur Natal, 30-11-1842 hingga 25-08-1843
Rumah Multatuli di Natal, 1842 (foto 1910)
Di Natal, Eduard Doewes Dekker tidak bisa menahan keprihatinannya terhadap perlakukan petugas terhadap penduduk. Dekker yang baru beberapa bulan bertugas menjadi tempat ‘curhat’ dan keluh kesah penduduk itu diresponnya dengan baik. Dekker bahkan melakukan advokasi, suatu yang tidak lazim dilakukan oleh pejabat pemerintahan colonial. Pengawas menganggap Dekker tidak pro pemerintah (yang mengeksploitasi) dan malahan pro terhadap penduduk (yang dieksploitasi). Akibatnya, Eduard Doewes Dekker dipanggil ke Padang dan dibebaskan dari tugas controleur dan digantikan oleh H. Dipenhorst.
Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1842 sempat direkam oleh Eduard Douwes Dekker yang kala itu menjadi controleur di Natal. Melihat penderitaan rakyat Mandailing dan Ankola, Dekker berbalik arah dan melakukan pembangkangan terhadap kebijakan pemerintah. Oleh karena Dekker manjadi tempat curhat para pimpinan penduduk menyebabkan dirinya dipecat dan diombang-ambingkan bagaikan gelandangan selama setahun di Padang tanpa mendapat gaji dan dihalangi bertemu istri yang tinggal di Batavia. Kisah inilah yang menjadi pemicu awal mengapa Eduard Douwes Dekker dikemudian hari novelnya diberi judul Multatuli (aku yang menderita).
Multatuli (Saya telah menderita)
Eduard Doewes Dekker adalah Controleur Natal. Namun namanya tidak pernah terpublikasi secara resmi. Dalam Almanak Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda tahun 1842 dan tahun 1843 nama controleur Natal tidak mencantumkan nama Eduard Doewes Dekker. Nama yang tercatat dalam Almanak tersebut adalah JH van Meerten, controleur yang sudah berakhir masa tugasnya. Tampaknya, nama Eduard Doewes Dekker ingin dihapus selamanya.
Namun dengan ditemukannya surat-surat Eduard Doewes Dekker (terbukti) dan kenyataannya, Eduard Doewes Dekker telah bertugas sebagai controleur di Natal sekurang-kurangnya antara 30 November 1842 hingga 25 Augustus 1843. Informasi ini telah dengan sendirinya mengkoreksi isi Almanak 1842 atau Almanak 1843.
De Sumatra post, 18-03-1931: ‘Surat dari Eduard Douwes Dekker. Telah ditemukan dari arsip Negara untuk disimpan, controleur di Natal, Eduard Douwes Dekker menulis surat dari 30 November 1842 hingga 25 Augustus 1843. Meskipun isi dari surat-surat ini tidak signifikan dan mengingat hal ini tidak ada kaitannya dengan literatur serius yang telah muncul di dalam tahun perjalanan Multatuli, tapi pasti akan disambut, sebab di dalam surat-surat itu dapat diperhatikan tentang kepribadian (ED Dekker) yang luhur di wilayah kerjanya (di Natal)’.
Hal yang penting dari surat-surat Eduard Doewes Dekker antara 30 November 1842 hingga 25 Augustus 1843 di satu sisi telah menunjukkan jatidirinya sebagai pribadi yang berkarakter yang boleh diartikan sangat peduli terhadap penderitaan penduduk Mandailing/Angkola akibat penerapan koffiestelsel (system tanam paksa), sementara di sisi lain isi surat-surat (yang ditahan tersebut) diduga menjadi penyebab mengapa Eduard Doewes Dekker dipecat dan ditelantarkan setahun di Padang.
Beberapa tahun kemudian, nama Eduard Doewes Dekker karena dianggap tuduhan palsu kepada lalu direhabilitasi. Eduard Doewes Dekker tidak melakukan pelanggaran administrasi (penyelewengan) dan kemanusian tetapi justru menyuarakan perlindungan kemanusiaan. Setelah direhabilitasi Eduard Doewes Dekker dipekerjakan kembali di tempat lain. Selama bertugas di berbagai tempat, Eduard Doewes Dekker masih terus menemukan dan melihat seperti apa yang dilihat, didengar dan dipahaminya di Mandailing/Angkola. Berbagai penderitaan penduduk terus mengiang di telinganya lalu menulis buku berjudul Max Havelaar dengan tokoh Multatuli. Buku ini (terbit 1860) menjadi heboh di Hindia Belanda dan terkenal hingga ini hari. Tokoh Multatuli yang digambarkannya bermula di Natal (penderitaan penduduk Mandailing/Angkola).
Algemeen Handelsblad, 07-07-1842
Eduard Doewes Dekker di Hindia Belanda bukan sendiri. Eduard memiliki saudara kandung bernama Jan Doewes Dekker. Dia adalah seorang militer.
Oleh : Akhir Matua Harahap
Senin, 03 Oktober 2016
Tuntut Realisasikan Plasma. Mahasiswa Pantai Barat Turun ke Jalan
Dalam orasi politiknya mahasiswa menuntut PT. RMM dan PT. DIS untuk segera merealisasikan kebun plasma milik desa Bintuas dan desa Buburan kecamatan Natal, Madina. Tercatat sudah 18 Tahun masyarakat desa Bintuas dan Buburan ditipu oleh perusahaan nakal ini.
Lebih lanjut dikatakan bahwa sejak tahun 1998 PT RMM telah menyatakan kesediaannya membangun kebun plasma bagi masyarakat sebagai bentuk wujud ganti rugi lahan masyarakat yang dirusak dan dikuasai. Namun PT RMM tidak pernah melaksanakan perjanjian tersebut, bahkan melalui surat No: 010/DR-SK/RMM/IX/2008 PT RMM menyatakan ketidaksanggupannya melanjutkan pengelolaan areal izin lokasi. Kemudian muncul PT DIS yang menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan usaha perkebunan PT RMM yang melalui surat No: 005/DIR-DIS/VII/09 menyatakan kesanggupannya membangun plasma.
Diantaranya " Cabut HGU PT RMM/PT DIS jika tidak merealisasikan kebun plasma desa Bintuas dan desa Buburan. Seret, adili dan penjarakan pengusaha nakal. Hentikan kekerasan, intimidasi dan kriminalisasi yang dilakukan aparat Pemerintah terhadap Rakyat. Usut tuntas Mafia Plasma dan CSR di Madina serta mendesak pemkab Madina untuk menyelesaikan persoalan agraria di kabupaten Madina."





